APEM, KUE PERLAMBANG AMPUNAN DAN KEBERSAMAAN

 Kembali ke daftar artikel 

 

Aneka jajanan pasar sering kita jumpai di pagi hari. Sudah tidak asing lagi kita mengenal adanya risol mayo, pisang aroma, ataupun kue pastel yang berisi sayur maupun daging ayam. Namun, di antara jajanan tersebut mungkin kalian juga akan menjumpai kue-kue yang berbeda-beda bentuknya tetapi sebutan untuk kue-kue tersebut adalah sama, yaitu kue apem.

Dari asal daerahnya di Indonesia, kue apem diduga kuat berasal dari Klaten, Jawa Tengah yang tersebar hingga ke sejumlah daerah di Pulau Jawa. Ada dua pendapat mengenai asal-usul kue apem, yaitu pendapat bahwa kue ini berasal dari India dan berasal dari Arab. Pendapat pertama menjelaskan bahwa ada kesamaan nama dengan kue yang ada di India, yaitu “appam”. Appam India terbuat dari adonan dosa yang disajikan dengan sayur rebus, kari kadala, semur kentang, sayur kurma, kelapa chutney, atau susu.

Pendapat kedua di mana asal mula kata apem berasal dari kata “afwan” yang berarti maaf atau memohon ampun. Adapun sejarah dari  kua apem ini dibawa oleh Ki Ageng Gribig, keturunan Prabu Brawijaya setelah pulang dari tanah suci. Ki Ageng Gribig membagikannya kepada para tetangganya. Karena jumlahnya terlalu sedikit, kue ini kemudian dibuat ulang oleh istrinya.

Selain kedua pendapat di atas, ada pula pendapat lain yang berkembang mengenai kue apem ini, seperti yang dijelaskan oleh Isa Wahyudi, pemerhati budaya asal Malang. Isa mengatakan bahwa kue apem sudah ada sejak tahun 1450-an. Dilansir dari Jawapos, beliau menjelaskan bahwa pada masa saat itu Sunan Kalijaga yang mengajarkan Islam bahwa setiap orang harus saling memaafkan. Pengajaran Islam oleh Sunan Kalijaga pun juga bebaur dengan budaya lokal, termasuk mengajarkan kepada masyarakat untuk membuat kue yang terbuat dari beras ketan putih, santan, gula, dan garam. Setelah kue siap di santap, Sunan Kalijaga mengajak para penduduk duduk bersama untuk memakan kue tersebut.

Kue apem ini kerap kali  menjadi sajian menjelang Bulan Ramadhan dan turut pula meramaikan tradisi-tradisi masyarakat jawa. Sebagian dari masyarakat jawa menghidangkan kue apem ini ketika menjalani tradisi Megengan untuk menyambut Bulan Ramadhan. Megengan sendiri berasal dari kata “megeng” yang berarti menahan. Tradisi ini dilakukan dengan membagikan sejumlah makanan, termasuk kue apem di dalamnya selepas shalat Maghrib ataupun Isya’ di masjid. Jemaah akan melantunkan kalimat-kalimat tayyibah. Harapan dilakukannya tradisi ini agar mereka dapat tenang dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan tenang dan berlapang dada karena Allah akan mengampuni segala dosa yang telah diperbuat. Tradisi inilah yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.

Ada pun tradisi lain seperti di Klaten, setiap menjelang Bulan Ramadhan selalu diadakan upacara Yaqowiyu yaitu upacara perebutan kue apem. Pada upacara tersebut, kue apem tersebut disusun menggunung dan diperebutkan oleh warga.

Berbeda halnya dengan Klaten, di Cirebon, kue apem ini biasa disajikan pada Bulan Sapar. Kue apem ini dibuat bersama-sama yang kemudian dibagikan kepada tetangga sebagai simbol kebersamaan. Penduduk juga mempercayai bahwa kue apem ini sebagai tolak bala. Kedua tradisi ini juga bisa ditemukan di sejumlah daerah lain di Pulau Jawa.

Seiring perkembangan zaman, kue apem yang biasanya berwujud bundar, gepeng, dan berwana putih ini dikreasikan baik dari bahan maupun sajiannya. Seperti apem kukus yang disajikan dengan warna yang lebih beragam dan ada pula kuae apem yang dipanggang. Selain apem kukus dan apem panggang, ada pula dikenal apem selong yang berasal dari Surabaya dan apem nasi yang berasal dari nasi sisa. (Wulan)

 

 

 

Penulis : Ade Wulan Fitriana