DjogdjaTempoeDoeloe: Jejak Sejarah Museum Dr Yap Prawirohusodo

 Kembali ke daftar artikel 

Yogyakarta- Sebuah bangunan dengan fasad berupa teras depan bagian pintu masuk yang ditata secara melengkung menjadi saksi bisu tumbuhnya kesadaran akan nasib bangsa Indonesia oleh seorang keturunan Tionghoa. Kini, bangunan yang terletak di Jalan Cik Di Tiro no 5 ,Terban ,Gondokusuman Yogyakarta terkenal sebagai Rumah Sakit Mata dr.Yap. Sebagai rumah sakit mata di Indonesia ,bangunan ini telah berdiri pada  kurun tahun 1922. Rumah Sakit Mata ini ternyata memiliki area museum yang tergabung dalam komplek rumah sakit. Terdengar menarik bukan ?

Jauh pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Kota Yogyakarta , pendiri  rumah sakit bernama  Yap Hong Tjoen sudah berkeinginan membantu masyarakat melalui kemampuan dan keterampilan medis khususnya mengenai kesehatan mata. Yap Hong Tjoen (kemudian bergelar dr.Yap) merupakan seorang terpelajar yang mengenyam pendidikan kedokteran di Belanda. Berdirinya rumah sakit ini memperlihatkan peran kaum Tionghoa untuk membangun  dunia medis sehingga, secara tidak langsung mewarnai identitas Kota Yogyakarta. Dahulu, rumah sakit ini bernama  Prinses Juliana Gasthuis Voor Ooglijders (Rumah Sakit Puteri Juliana untuk penderita Penyakit Mata). Cikal bakal rumah sakit ditandai melalui “tetenger “ berupa penanda bertuliskan  “De eerste steen gelegd door z.h Hamengkoebuewono VIII op den 21 sten Nov 1922”

Di masa kini , jejak sejarah rumah sakit dapat disaksikan dalam Musem dr. Yap Prawirohusodo. Museum ini diresmikan pada tahun 1997 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Menempati lahan di  area lingkungan Rumah Sakit dr. Yap dengan luas 246 m2. Museum dr. Yap Prawirohusodo dapat dikunjungi setiap Hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 09.00-15.00 WIB. Untuk dapat berkunjung ke museum ini, pengunjung harus memasuki area rumah sakit terlebih dahulu, kemudian dapat memarkirkan kendaraan di sisi selatan area depan rumah sakit. Museum terletak di sebelah barat mushola rumah sakit. Sebagian besar koleksi di museum ini adalah benda-benda yang berhubungan dengan alat kedokteran mata, peralatan rumah tangga atau koleksi keluarga, foto, lukisan, dan benda elektronik yang berjumlah lebih dari 900 koleksi. Ditambah pengunjung dapat merasakan atmosfer khas bangunan kolonial serta dengan  adanya pepohonan rindang dan taman-taman membuat museum ini sangat nyaman untuk dikunjungi.

Melalui museum ini, pengunjung dapat menjejak banyak ruang-ruang memori dan cerita mengenai peninggalan warisan dr.Yap Yang bisa direnungi sebagai sebuah penanda sejarah dan keberlanjutan dari sebuah gagasan yang humanis. Jiwa humanis yang dimiliki dr.Yap Hong Tjoen diberikan melalui pelayanan pada para pasien secara adil tanpa memandang siapa dia dan bagaimana latar belakangnya.

Penulis : Restu Wardhani
Infografis : Yoga Kurniawan