Een Kartini School : Kisah Kartini Dan Jejak Pendidikan Di Tanah Koloni

 Kembali ke daftar artikel 

“Apakah Engkau tahu semboyanku ?(...)  :Wat wij wenschen , willen , en streven ? Hooger geest gebiedt ,vrije mensch uw weg uw leven ! “ .

Pembuka dengan  Max Havelaar

Dalam bukunya yang termasyhur berjudul Max Havelaar (1860), Eduard Douwes Dekker menceritakan potret kondisi masyarakat Lebak dalam cengkeraman kolonial Belanda. Sang penulis, dengan nama pena Multatuli ini diyakini berhasil membuka mata dunia khususnya publik Belanda sendiri mengenai cerita penyelewengan serta kondisi masyarakat tanah koloni yang begitu mengenaskan akibat dicekik kolonialisme. Lambat laun, kondisi semacam ini kemudian “menggugah” nilai humanisme dan keadilan. Lewat suaranya yang mencoba berkompromi dengan kemaslahatan bersama, pada penghujung abad 19 Pemerintah Kolonial kemudian di desak untuk melakukan “balas budi” pada tanah hijau tempat mereka bernaung. Seorang tokoh yang aktif menyuarakan ini ialah Conrad Theodore van Deventer. Deventer memiliki argumen bahwa pemerintah bisa membuka alternatif upaya utang budi ini melalui penyediaan jalur pendidikan formal yang layak bagi Kaum Bumiputera. Gagasan Deventer kemudian dikenal khalayak sebagai Politik Etis. Diresmikannya politik etis pada awal abad ke-20 menjadi momentum “pembuka perbaikan”  sistem pendidikan bagi rakyat pribumi .

Kartini dan Muasal Semua Tanda Tanya

Dalam pertumbuhan dan perkembangan wilayah jajahan Hindia Timur, mulai pada tahun 1860-an mulai banyak berdatangan gelombang orang-orang Eropa ke tanah ini. Dalam banyak pergulatan rentetan kisah para elite pribumi perempuan zaman kolonial, yang mampu masuk pada lingkaran pergaulan itu salah satunya ialah Kartini, yakni seorang putri Bupati Jepara kala itu. Bahkan Kartini diperbolehkan memasuki bangku sekolah hingga usia 12 tahun untuk mendapat pendidikan di ELS (Europese Lagere School ,setingkat sekolah dasar di masa kini) dengan keuntungan berupa pelajaran Bahasa Belanda. Kemampuannya dalam berbahasa Belanda merupakan modal pengetahuan yang amat berharga untuk berhubungan
dengan teman-temannya, terutama dari bangsa Eropa. Korespondensi Kartini dengan wanita
modern dari Eropa seperti Stella Zeehandelaar, semakin membuka wawasannya
khususnya tentang emansipasi dan kemajuan wanita. Hal inilah yang mendorong Kartini untuk memajukan kaum wanita Indonesia yang saat itu berada dalam status sosial yang sangat rendah.  

Kartini bersama dua adik perempuannya yang kemudian berjuluk “Het Klaverblad” ( Tiga bersaudara) juga rajin menyambangi kediaman Asisten Residen Jepara Nyonya Ovink –Soer. Pada Nyonya Ovink Soer, Kartini meluapkan rasa hausnya mengenai beragam pemikiran modern. Melalui telaah pustaka yang dilakukan pada karya berjudul “ Persoonlijke Herinnering aan Raden Adjeng Kartini “  door Marie Ovink Soer halaman 4 diceritakan bahwa : “( ......) Zij noemde mij : moedertje ,en werd mij lief als een eigen dochter bijna. Apabila ditarik dalam terjemahan maka dapat diartikan bahwa Nyonya Ovink Soer telah menganggap Kartini seperti putrinya sendiri. Kartini juga berlaku demikian dengan memiliki panggilan sayang pada Nyonya Ovink Soer berupa “ Moedertje”.

 Berawal dari perjalanan ini, mulailah timbul dalam benak Kartini : “bagaimana caranya mewujudkan cita-citaku itu ?”

Terbang dari Jepara ke Semarang

Pada pertengahan Juli tahun 1903, setelah mengalami “asam garam” kamar pingitan dan pemangkasan kebebasan, Kartini mendapat lamaran dari Bupati Rembang Raden Adipati Djojodiningrat. Sekitar lima bulan kemudian, pada 8 November 1903 Kartini resmi dipersunting sang Bupati lalu diboyong ke Rembang Jawa Tengah. Satu tahun kemudian pada 17 September 1904, Kartini wafat setelah melahirkan putra satu-satunya.

Meski cita-citanya tidak lekas sepenuhnya sampai di ujung sauh, nyatanya asa dan semangat Kartini dapat menjadi obor di kegelapan. Pada tahun-tahun sebelumnya, Kartini juga telah berkawan baik dengan keluarga Abendanon. Selang berganti tahun pada 1911, keluarga Abendanon kemudian membukukan surat-surat yang pernah ditulis Kartini dan  menerbitkannya dalam tajuk “Door Duisternis tot Licht”.Buku bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang ini ludes dan laris manis, pemikiran Kartini yang dianggap modern serta  melampaui zaman memantik kalangan orang Belanda yang berhaluan politik etis salah satu pembaca setia yang terinspirasi ialah Deventer.

Pada tanggal 1 Februari 1912, untuk pertama kalinya komite mengadakan pertemuan di Den Haag. Secara resmi Yayasan Kartini (Kartini Vereeniging) diresmikan tanggal 22 Agustus 1912 di Belanda dengan Van Deventer menjadi pimpinan yayasan ini. Hal ini juga tercatat dalam arsip  yang didapatkan melalui kegiataan telaah pustaka pada  koran berbahasa Belanda Het Vaderland Staat- En Letterkundig Nieuwsblad  tertanggal 11 September 1912 Vier-en-veertigste Jaargang - No. 219 tertulis :

“De Locomotief meldt, dat het plan bestaal te Semarang een Kartini-school op te richten. Op initiatief 'van mr. v. Deventer is een comité van voorbereiding gevormd, waarin invloedrijke Semarangers zitting hebben. De school zal een neutraal karakter hebben. De noodige gelden zullen gevonden worden uit de opbrengst van de uitgave der nagelaten brieven van Kartini en een regeeringssubsidie. Gisteren zijn de eerste besprekingen gehouden, waarbij ook mr. van Deventer tegenwoordig was”

Yayasan Kartini pertama kali mendirikan Sekolah Kartini di Semarang pada tahun 1913. Pada tahun selanjutnya, sekolah ini juga didirikan di kota lain yang berada di Pulau Jawa. Kota Semarang merupakan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah.  Sedangkan Van Deventer sendiri merupakan salah satu penggiat politik etis yang melakukan sebuah gebrakan dalam bidang pendidikan dengan mendirikan Sekolah Kartini di Semarang pada tahun 1913.

 Een Nieuwe Kartini-School Geopend !

Sekolah Kartini Semarang berdiri pada tahun 1913 dan termasuk dalam sekolah yang menerima subsidi pemerintah. Pada tahun 1913, Sekolah Kartini Semarang mendapatkan subsidi sebesar f.23.000 untuk pembangunan sekolah (“Surat Pembangunan Lokal Kelas Sekolah Kartini Desa Karang Tengah Semarang 1913”, Tweede Waterstaat te Semaraang No 1223). Pada tahun pertama, jenjang pendidikan di Sekolah Kartni hanya sampai kelas dua. Jumlah total siswa kelas satu sebanyak 87 siswa yang dibagi ke dalam tiga kelas. Sedangkan jumlah siswa kelas dua sebanyak 25 siswa. Jadi total siswa di Sekolah Kartini Semarang pada tahun pertama berjumlah 112 siswa. Jumlah yang cukup banyak untuk siswa sekolah perempuan dengan kisaran usia siswanya antara 7 hingga 13 tahun. Kegiatan  yang dimiliki Sekolah Kartini sendiri berupa adanya pelajaran kewanitaan seperti memasak dan menjahit.

Dibukanya Sekolah Kartini Semarang juga ditemukan pada kegiatan telaah pustaka yang memuat informasi tertulis berupa “Semarang, 7 Aug. 1913.Kartini-school. Voor de Kartini-school te Semarang hebben zich ongeveer 80 leerlingen aangemeld”  dalam Het Nieuws Van Den Haag voor  Nederlandsch Indie  tertanggal  Donderdag 7 Augustus 1913.

Alih Pimpinan untuk Memajukan Zaman

 Hapsari dalam jurnal  Sekolah Kartini dan Van Deventer: Pelopor Sekolah Perempuan Di Semarang Pada Masa Kolonial menulis sebagai bentuk penghormatan karena dianggap memiliki jasa besar dalam memajukan pendidikan perempuan di Jawa maka didirikan Sekolah Van Deventer atas prakarsa Elisabet Mass (istri Deventer) . Sekolah Van Deventer ini kemudian menjadi bagian dari Yayasan Kartini dan merupakan sekolah guru (Kweekschool) yang diprioritaskan bagi siswa lulusan Sekolah Kartini. Ketika melakukan pembangunan Sekolah Van Deventer, yayasan mengalami kekurangan dana. Total biaya yang dibutuhkan untuk mendirikan Sekolah Van Deventer sebesar f.80.000, sedangkan dana yang tersedia sebesar  f.14.000 ,maka Sekolah Van Deventer mendapatkan bantuan dari Sekolah Kartini untuk menutupi kekurangan biaya. Secara resmi Sekolah Van Deventer Semarang berdiri pada tahun 1917, tetapi belum memiliki gedung sendiri. Ruang belajar Sekolah Van Deventer masih meminjam salah satu kelas di sekolah Kartini. Jabatan kepala Sekolah Van Deventer dirangkap oleh kepala Sekolah Kartini yaitu Nyonya F.A Volkers Schippers.

Sekolah Kartini Riwayatmu Kini

Menurut data Jubileum Verslag Uitgegeven Ter Gelegenheid Van Het 25 Jarig Bestaan Der Vereeniging Kartinifonds (Semarang: Tanpa Penerbit, 1937) yang diperoleh di SD Sarirejo 1 Semarang serta ditambah penelusuran lapangan oleh Komunitas Lopen  Semarang pada bangunan sekolah SD N Sarirejo 1 di jalan Dr. Cipto - Semarang, didapatkan temuan bahwa sekarang bangunan bekas Sekolah Kartini masih berdiri. Bangunan ini dimanfaatkan sebagai gedung SD   serta masyarakat sekitar  masih menyebut  sekolah tersebut sebagai SD Kartini.

Dalam catatan lebih lanjut yang ditemukan , riwayat mengenai Sekolah Van Deventer sendiri sebagai bagian dari ‘anggota sejarah’ sekolah Kartini masih berdiri dengan nama Sekolah Menengah Atas dan Akademi Kesejahteraan Sosial Ibu Kartini ( Van Deventer School ) Semarang.  Beralamat di Jalan Sultan Agung 77 Candi Baru ,Semarang ,bangunan sekolah telah teregistrasi dalam sistem cagar budaya RNCB 20151105.02.000047. Bangunan  sekolah ini  bergaya indische tropis dengan atap limasan berbahan penutup genteng cetak dengan merk  “de zon”