Gereja Jawa Pertama Kota Yogyakarta “Santo Yusup” Bintaran

 Kembali ke daftar artikel 

“ Sejak pagi-pagi sekali ,banyak umat datang berduyun-duyun ke Bintaran ,bagian kota yang jadi jantungnya Yogyakarta. Ucapan serta salam tradisional kepada para romo ,pagi itu membuahkan arti sangat istimewa .... “ – Korespodensi Majalah St.Claverbond

Siapa saja rasa-rasanya akan terpikat dengan bangunan cagar budaya nan eksotis di kawasan Kampung Bintaran ,Yogyakarta. Sebuah gedung peribadatan kaum Katolik megah nan masyhur pula. Tersebutlah ,Gereja Santo Yusup Bintaran menjadi penanda lorong waktu cikal bakal dan  perkembangan sejarah yang mewarnai catatan bangsa kita.

Pada masa pendudukan Belanda ,  situasi kemasyarakatan khususnya pada ranah peribadatan umat Katolik  mengalami dampak berupa terlampau besarnya jumlah warga keturunan Eropa yang berkunjung ke gereja.  Setali tiga uang ,jumlah umat Katolik Jawa yang juga membludak tidak lagi cukup ditampung di gudang timur gereja kidul loji. Terlebih muncul pula , semacam “perasaan canggung” manakala masyarakat Katolik Jawa yang merasa kurang sreg apabila duduk di bangku .Hal ini ,dilatarbelakangi oleh kebiasaan masyarakat yang menggunakan pakaian serta jarik ,mereka beranggapan duduk bersimpuh di lantai akan lebih nyaman.

Sungguh beruntung , suasana semacam ini dapat terbaca oleh para pelopor pembangunan gereja Bintaran Romo H. van Driessche  dan Bapak Dawoed (seorang katekis pribumi) serta Romo A. Van Kalken SJ, Regulier Ovreste Missi Jesuit di Jawa kala itu. Beliau-beliau inilah yang kemudian mempelopori dan menggugah semangat saudara-saudara seiman untuk melontarkan gagasan perlunya pembangunan gereja baru di Yogyakarta sesuai “citarasa” masyarakat setempat. Pilihan akhirnya jatuh pada sebidang tanah di wilayah sebelah timur Kali Code tepatnya di kawasan Kampung Bintaran di sudut sebuah jalan pertemuan antara Jalan Bintaran Kulon dan Bintaran Tengah.  Cetak Biru Gereja  Bintaran sebagai cikal bakal bangunan  kemudian di rancang oleh arsitek Belanda bernama J.H. van Oijen B.N.A, dan kontraktor pelaksana dibantu Hollandsche Beton Maatschappij. Gereja Santo Yusup Bintaran Yogyakarta dibangun pada kurun tahun 1933–1934. Gedung gereja kemudian diresmikan pada hari Minggu 8 April 1934, oleh Romo A. Th. Van Hoof, SJ.

Gereja Bintaran telah melewati waktu . Gereja yang beralamat di Jalan Bintaran Kidul No. 5, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta ini  telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh Negara Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 Tentang Penetapan Situs Dan Bangunan Tinggalan Sejarah Dan Purbakala Sebagai Benda Cagar Budaya Atau Kawasan Cagar Budaya.

Dibandingkan dengan bangunan-bangunan sekawan pada zamannya ,bangunan Gereja Santo Yusup Bintaran ini memiliki keunikan tersendiri.  Cahaya matahari dibuat  agar sebisa mungkin leluasa masuk menerangi bagian dalam ruangan . Hal ini seperti menyiratkan bahwa naungan Kristus  dapat memberikan berkah pada umatnya. Sinar penerang akan masuk melalui 72 buah rooster ganda yang berjajar menyamping dinding dari bahan beton cor. Dalam perjalanan perjuangan bangsa , Gereja Bintaran juga mengambil peran dalam mempertahankan hak beragama dan hak berbangsa seperti yang dituturkan Romo Soegija ,seorang Uskup Agung Semarang. Beliaulah yang  memindahkan kantor Vikariat Apostoliknya dari Gereja Katedral Semarang menuju Gereja Bintaran sebagai bentuk dukungan dan ungkapan kebangsaan  ketika pada November 1946, Soekarno dan Moh. Hatta memindahkan pusat pemerintahan barunya dari Jakarta ke Yogyakarta.. Maka tak heran ,hal ini kemudian mengilhami terpilihnya Gereja Bintaran sebagai salah satu lokasi yang diambil dalam sinema biopik mengenai perjalanan hidup Romo Soegija karya Garin Nugroho tahun 2012 lalu.

Gereja Bintaran juga memiliki peran dalam sejarah umat Katolik dan masyarakat Indonesia. Peran Gereja Bintaran bagi sejarah umat Katolik Yogyakarta khususnya ialah  menjadi tempat rintisan sekolah pribumi Kolose de Brito sekitar tahun 1947. Cerita juga bergulir , Pada masa Agresi Militer Belanda II manakala Soekarno diasingkan ke Pulau Bangka, Romo Soegijapranata pernah menyembunyikan dan memberi tempat mengungsi Fatmawati dan keluarga dari  kejaran tentara Belanda.

Gereja Bintaran dimasa kini biasa membuka peribadatan setiap hari Minggu dan hari-hari besar kaum Katolik . Gereja Bintaran menjadi angin baru yang meniup semangat perjuangan  serta saksi bisu perjalanan bangsa kita.

Mengutip sedikit apa yang dituturkan oleh Romo Soegija :

“Kemanusiaan itu satu.Bangsa manusia itu satu .Kendati berbeda merupakan satu keluarga besar” 

Berkah ndalem kagem sedaya ..

Sumber:

Lonceng Bintaran : Media Komunikasi Paroki St.Yusup Bintara Yogyakarta

Sinema Biopik “Soegijapranta” ,Copyright Puskat Pictures

Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, Gereja Santo Yusup Bintaran, 17 Maret 2017, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/gereja-santo-yusup-bintaran/

Sejarah Perjalanan Gereja St. Yusup Bintaran, Yogyakarta: Komsos Paroki St. Yusup Bintaran.

Theresiana Ani Larasati, Gereja Bintaran Sebagai Bangunan Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, https://bpad.jogjaprov.go.id


Infografis : Putri F. S.
Tulisan : Restu Wardhani