Ketandan, Kampung Pecinan Di Yogyakarta

 Kembali ke daftar artikel 

 

 

Hari itu, minggu pagi, udara pun masih bersih, kawasan Malioboro juga belum terlalu ramai, cukup sepi. Saat yang tepat bagi yang ingin berjalan menjelajahi kawasan ini tanpa terganggu dengan riuhnya wisatawan dan lalu lalang kendaran bermotor. Salah satu obyek wisata cagar budaya  yang sering terlewatkan oleh wisatawan di Malioboro adalah keberadaan Kampung Ketandan.

Kampung Ketandan adalah kawasan Pecinan yang ada di Yogyakarta. Nama Ketandan berasal dari kata “tanda” atau “tondo”, tingkat kepangkatan yang ada dalam petugas pajak. Dulu, Ketandan adalah kawasan nDalem Secodiningrat. Tempat tinggal orang Tionghoa yang berkerja sebagai penarik pajak (pachter) untuk Kraton Yogyakarta. Selain itu, kawasan Ketandan dulu juga pernah menjadi tempat peristirahatan, gudang garam, dan juga istal (kandang kuda).

Salah satu tokoh Tionghoa yang penting di Yogyakarta adalah Tan Jin Sing (1760-1831). Seorang penerjemah dan asisten dari Sultan HB III saat masih menjadi putra mahkota.  Tan Jin Sing berperan penting dalam proses pengangkatan Sultan HB III , penghubung antara HB III dengan Raffles, dan penarik pajak untuk Kraton. Atas jasanya, Tan Jin Sing diangkat menjadi Bupati Yogyakarta pada tanggal 18 September 1813 dan menjabat hingga 1830. Beliau mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat dari Sultan Hamengkuwono III atas saran Sir Thomas Stamford Raffles. Tan Jin Sing pula yang membuka jalan pertama ke Candi Borobudur. Dari sinilah cikal bakal keturunan trah Secodiningrat.

Pada tahun 1900an Ketandan mulai berkembang menjadi kawasan perekonomian. Beragam jenis toko mulai bermunculan. Mulai dari toko obat, toko kelontong, hasil bumi, emas , dan kebutuhan sehari-hari. Ragam dan jenis toko pun berubah seiring dengan perkembang zaman. Tanah di Ketandan kemudian dibagi dan diwariskan secara turun temurun. NDalem Secodiningrat yang dulu luas, saat ini menjadi rumah-rumah yang memanjang kebelakang dengan toko dibagian depan. Sekarang banyak diantaranya yang membuka toko emas.

Kampung Ketandan tidak seperti kawasan Pecinan yang ada di kota-kota lain. Disini, percampuran akulturasi Tionghoa, Eropa, dan Jawa sangat kuat. Jika tak cukup jeli menangkap unsur-unsur Tionghoa disini, tanpa gapura, warna merah dan emas yang mencolok, dan ornamen-ornamen khas Tiongkok, akan sedikit yang sadar bahwa ini adalah kawasan pecinannya Jogja. Akhirnya, akan hilang ditelan zaman jika tidak kita jaga bersama.

Instruksi presiden Soeharto Nomor 14 Tahun 1967 mengatur agar etnis Tionghoa merayakan perayaan-perayaan pesta agama atau adat istiadat tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dilingkungan keluarga. Demikian juga saat hari raya Imlek. Tidak ada libur dan perayaan-perayaan sepeti hari raya umat Islam atau Nasrani. Nama-nama yang identik dengan Tionghoa pun dirubah, agar lebih terasa “pribumi”. Seperti nama toko-toko emas di Ketandan, toko obat di Malioboro, memakai nama yang sekiranya dianggap sangat “Indonesia”.

Beruntung, kita punya sosok seperti Abdurrahman Wahid, Bapak Tionghoa Indonesia. Gus Dur menerbitkan Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000 dan juga mencabut inpres nomor 14 tahun 1967. Hal ini membuka kesempatan bagi masyarakat Tionghoa menampilkan pesta-pesta agama, adat dan budayanya ke ruang publik.

Kampung Ketandan pun mulai berhias diri. Salah satunya dengan cara menggelar Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) setiap tahun sejak tahun 2006. Bukan perkara mudah, karena sudah lebih dari 30 tahun “kehilangan” identitasnya. Banyak generasi mudanya yang tak tahu akan keluhuran budaya nenek moyangnya. Akhir kata, menjadi tugas kita bersama-sama untuk merawat dan melestarikan warisan budaya bangsa.

 

Penulis : Roni Ali