KOK GAK PERNAH MAIN LAGI?

 Kembali ke daftar artikel 

Saya percaya setiap orang setidaknya memiliki satu kebiasaan irasional. Temanku Dani misalnya, ia begitu senang mendengarkan suara radio yang bergemeresik. Sebaik apa pun kondisi langit, secanggih bagaimana pun teknologi penyiaran radio, Dani akan mencari cara guna mengeluarkan suara “kresek-kresek” dari radio milikinya. Sungguh aneh memang.

Satu hari, saya tengah berbaring, terlampau malas melakukan apa pun. Sayup-sayup bunyi radio tua bergemeresik dari kamar Dani. Saya yang telah mafhum membiarkan saja sang penyiar asyik bercuap, ditinggal Dani yang tidur sendiri. Sekonyong-konyong kemudian, alunan “Si Pelanggan” ala Silampukau mengudara.

“Dolly,

Yang menyanyala-nyala di puncak kota

Yang sembunyi di sudut jalan jiwa

Pria Surabaya”

 Lagu ini menceritakan kerinduan bertubi-tubi dari mereka yang kesepian kepada Dolly, si mantan sarang prostitusi terbesar di Indonesia. Dolly yang ramah itu kini telah tutup usia. Dibredel aparat penegak moral. Sebagian pekerja lantas dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing. Sebagian lain diberikan pelatihan keahlian guna menambah kecakapan di luar urusan ranjang dan birahi. Meski telah tiada, Dolly adalah bukti historis di mana hastrat seksual manusia adalah putik bunga yang menggeliat, senantiasa tumbuh di mana pun angin birahi membawanya. Buruknya, ini adalah fenomena purba yang telah mengakar bahkan sejak anak dari manusia pertama, Adam.

Dalam sebuah riwayat dari kepercayaan Islam, disebutkan bahwa pembunuhan pertama dalam sejarah manusia terjadi karena kecemburuan seksual Qabil kepada Habil. Qabil iri kepada Habil karena mendapatkan saudari mereka yang cantik sebagai istri. Ia yang tidak terima lantas menghabisi nyawa Habil dengan harapan kematian saudaranya ini akan membuat dirinya mendapatkan XX sebagai istri. Apa daya, nasi telah menjadi bubur. Bukannya mendapat manfaat, malah mudharat yang diterima Habil. Akibat perbuatannya, kini ia menanggung seluruh dosa pembunuhan yang pernah dilakukan umat manusia sepanjang sejarah dunia.

Melompat ke masa yang lebih muda, saat imperium Sriwijaya berkuasa, kegiatan prostitusi yang melibatkan kaum bangsawan marak terjadi. Hal ini terindikasi dari sebuah penggalan kata yang teradapat dalam Prasati Talang Tuwo meskipun tidak dijelaskan secara rinci. Kata yang dimaksud adalah Paradara. Istilah Paradara sendiri dapat disamakan sebagai perbuatan mesum. Dalam buku Sriwijaya karangan Mulyana (2006), terdapat kutipan isi Prasasti Talang Tuwo, yakni:

 

                                                  Prasasti Talang Tuwo

                                                   Sumber : Wikipedia.id

 

 

“jangan ya kapata yang wininya mulang anukula bharayya muah ya warang sthananya lagicuri ucca wadhanya paradara di sana..”.

 

Terjemahannya :

Jangan hendaknya para sahabat berkhianat terhadap beliau; para bini hendaknya tetap setia sebagai isteri kepada beliau. Dimanapun beliau berada, janganlah dilakukan curi, curang, bunuh dan mesum disitu…

 

Adanya kata Paradara / mesum dalam prasasti mengidentifikasikan bahwa perbuatan mesum ini sudah menjadi masalah besar dalam Kerajaan Sriwijaya. Biasanya hal-hal yang dituliskan dalam prasati merupakan hal-hal penting yang menyangkut kehidupan kerajaan atau personal yang mengeluarkan prasasti tersebut. Selain itu dapat kita duga raja-raja sebelumya dan para pembantu kerajaan pernah ketahuan melakukan perbuatan ini sampai perlunya doa-doa yang ditulis dalam prasasti agar raja terhindar dari penyakit masyarakat ini. Indikasi lain adalah dalam terjemahan prasasti, ada kata “dimanapun berada beliau”. Kata tersebut dapat dimaknai bahwa masalah ini tidak saja terjadi di dalam istana kerajaan tetapi telah menyebar ke dalam kehidupan masyarakat.

 

Meskipun dalam Prasasti Talang Tuwo tidak disebutkan hukaman bagi para pelaku perbuatan Paradara, dalam prasati lainnya disebutkan hukuman orang-orang yang berbuat jahat. Perbuatan paradara dapat kita artikan sebagai perbuatan jahat yang merugikan orang lain. Jika melihat masa sekarang, banyak dijumpai para pekerja seks komersil (Psk) yang terjebak akibat tertipu. Selain itu perbuatan mesum juga mengganggu masyarakat sekitarnya karena bisa saja anggota keluarganya masuk dalam lingkungan kegiatan tersebut. Permasalahan yang muncul ini juga sangat mungkin terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya. 

 

Pada Prasti Kota Kapur, termuat berbagai kutukan bagi orang yang berbuat jahat. Salah satu kutipan isi Prasasti Kota Kapur (dialihkan dalam aksara latin)

                                                     Prasasti Kota Kapur

                                          Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

"Talu muah ya dnan gotrasantanana. tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval. Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha. pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu- ruh marjjahat...”

Terjemahannya :

 

“Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti meng­ganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk...”

 

Membaca penggalan prasasti diatas jelas dapat diyakini bahwa orang-orang yang berbuat jahat akan medapat hukuman dikutuk. Selain itu kita yakin bahwa perbuatan mesum atau Paradara atau kegiatan yang dilakukan orang-orang di tempat prostitusi adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama yang berlaku pada masanya. Mendapat kutukan menjadi hukuman para pelaku mesum secara tidak langsung, namun juga terdapat hukuman yang dijatuhkan pada pelaku perbuatan mesum secara langsung. Bagi pria hukuman yang dijatuhkan bisa berupa denda yang diputuskan dalam pengadilan atau perorangan. Hukuman mati bisa dijatuhkan pada pria pelaku mesum jika mesum dilakukan oleh pelaku yang masing-masing sudah memiliki pasangan. Suami dari pelaku mesum dapat tidak terima jika istrinya berbuat mesum dan dapat langsung membunuh pasangan mesum istrinya. Hal itu diperbolehkan dalam kitab Purwadhigama, Kuntaramanawa, Siwassasama. Bagi wanita hukuman yang dijatuhkan bisa berupa jatuhnya perceraian pada dirinya. Dalam Kitab Kutaramana suami berhak menceraikan istrinya dengan alasan apapun termasuk jika ketahuan berbuat mesum dengan orang lain. Hukuman lain setelah perceraian adalah hukuman sosial dari masyarakat seperti hinaan, cacian dan bahkan dijauhi dari lingkungan.

Meskipun dengan berbagai aturan dan ancaman seperti itu perbuatan mesum mungkin akan sulit dihilangkan. Dalam suasana sendu, saya terbangun dari tidur ayam. Tak terasa sudah hampir seharian saya tertidur sambil mendengarkan radio buntutnya Dani. Ahinya saya memiliki sebuah kesimpulan, selama manusia memiliki nafsu birahi, selama itu juga mesum akan hidup abadi. Sama dengan kasus dolly, meskipun sudah ditutup bisa saja para pelanggan akan tetap mencari tempat baru untuk memuaskan nafsu mereka.

Ketika saya bangkit untuk bercuci muka, terdengarlah sebuah lirik lagu dengan sendunya.

“ku panggil-panggil namamu,

Dolly. Oh dolly”

 

So, masih kepikiran untuk berbuat mesum ?

 

DWI KURNIA SANDY

editor : Sandy Maulana Yusuf