Loji Gandrung: Bangunan Cagar Budaya Yang Menjadi Kediaman Walikota Surakarta

 Kembali ke daftar artikel 

Surakarta atau biasa disebut Solo merupakan salah satu rekomendasi bagi kalian yang ingin berwisata budaya. Di kota inilah terdapat Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, penerus dari Kerajaan Mataram Islam. Selain itu juga Solo juga merupakan pusat dari Karisidenan Surakarta. Maka tak heran jika kini kalian sering menjumpai bangunan peninggalan Belanda di samping juga bangunan khas Jawa.

 

Gambar 1. Keadaan Sekarang Bagian dalam Bangunan Loji Gandrung

Salah satu bangunan yang akan kalian jumpai di pusat kota adalah Loji Gandrung. Berdasarkan tulisan Andi Putranto (2018) dalam Model Penilaian Kuantitatif Bangunan Cagar Budaya Kota Surakarta, bangunan ini terletak di Jalan Slamet Riyadi, Laweyan, Surakarta. Loji Gandrung pada awalnya merupakan bangunan milik seorang Belanda yang bernama Johannes Augustinus Dezantje, merupakan seorang pemilik perkebunan swasta terbesar di Jawa Tengah khususnya di wilayah vorstenlanden Surakarta pada sekitar abad ke-18.

Setelah Dezantje meninggal pada tahun 1839, kepemilikan Loji Gandrung dialihkan ke pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, seluruh bangunan dan aset Belanda diambil alih oleh pemerintah Indonesia tak terkecuali Loji Gandrung. Bangunan tersebut dimanfaatkan pemerintah sebagai markas perjuangan melawan Belanda.

Pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948, Loji Gandrung pernah digunakan Jenderal Gatot Subroto untuk menyusun strategi dalam menghadapi Belanda. Nah, untuk mengenang perjuangannya maka di depan Loji Gandrung sekarang dipasang patung beliau sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Selain itu Loji Gandrung juga pernah digunakan sebagai markas oleh Letkol. Slamet Riyadi ketika terjadi Serangan Umum 1 Maret 1949, yang kini namanya diabadikan sebagai nama jalan utama di Solo. Presiden Soekarno ketika kunjungan kerjanya di Solo juga pernah menginap di Loji Gandrung dan memiliki kamar khusus. Bangunan yang penuh sejarah bukan?

 

Bangunan Loji Gandrung kini digunakan sebagai rumah dinas wali kota Surakarta yang sedang menjabat. Bangunan Loji Gandrung memiliki arsitektur kolonial atau biasa disebut arsitektur Indis, yaitu perpaduan antara gaya arsitektur Belanda dengan arsitektur lokal Jawa. Dalam Sejarah Loji Gandrung Surakarta, Oktaviani (2017) menjelaskan bangunan tersebut memiliki luas sekitar 3.500 m2 yang berdiri di atas lahan seluas 6.295 m2 . Hingga sekarang bangunan masih dalam kondisi asli sejak pembangunannya dan tidak banyak perubahan dalam komponen bangunannya. Saat bangunan Loji Gandrung juga telah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya karena memiliki sejarah yang panjang serta menyimpan budaya yang khas dari masanya.

Kalian tentu penasaran kan dengan mengapa bangunan tersebut dinamakan dengan Loji Gandrung? Konon penyebutan “loji” berasal dari Bahasa Belanda lodge yang artinya rumah besar sedangkan “gandrung” sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang artinya rindu atau sedang kasmaran, karena dahulu bangunan tersebut digunakan sebagai tempat berpesta dan berdansa. Menarik bukan, meskipun dibangun oleh orang Belanda namun bangunan tersebut memiliki arsitektur dengan gaya lokal sekaligus dikasih nama dengan unsur lokal pula.

Jika kalian menyukai wisata budaya yang bernuansa vintage bangunan tersebut cocok dijadikan sebagai salah satu daftar tempat yang harus kalian kunjungi jika sedang berada di Solo. Tulisan Labib Zabani dari Kompas.com (2018) berjudul Berubah Nama Jadi Rumah Bung Karno, Loji Gandrung Kini Lebih Terbuka, dilansir bahwa walikota solo sekarang, FX Hadi Rudyanto, mengubah nama Loji Gandrung dengan Rumah Bung Karno alasannya karena menghargai dan menghormati sosoknya sekaligus dia berharap supaya keberadaan Loji Gandrung selanjutnya dapat dirasakan masyarakat luas. Dia juga  memperbolehkan masyarakat jika akan berkunjung atau mengadakan acara di bangunan tersebut, namun tentunya harus melakukan perizinan dahulu.

Sangat menarik kan, tak salah lagi jika tempat tersebut menjadi salah satu destinasi wajib jika kalian berkunjung ke Solo. Selain Loji Gandrung jika kalian menyukai wisata budaya bisa berkunjung juga ke Taman Sriwedari, sebuah taman hiburan yang dibangun pada oleh Pakubuwono X dan menjadi lokasi yang sering digunakan untuk pertunjukan budaya misalnya wayang dan tari.

Selain itu kalian juga bisa mengunjungi Museum Radya Pustaka, sebuah museum yang dibangun oleh Raden Adipati Sosrodiningrat IV, seorang patih pada Kasunanan Surakarta. Gedung yang dijadikan lokasi museum sekarang adalah bekas rumah Belanda, Johannes Busselaar. Koleksi museum ini terdiri dari benda-benda peninggalan masa Hindu Buddha serta mayoritas peninggalan Kasunanan Surakarta. Di museum ini  disimpan cukup banyak naskah-naskah karya pujangga Kasunanan Surakarta serta beberapa prasasti dari abad VIII-X.

Loji Gandrung yang kini telah berusia 100 tahun lebih dan memiliki sejarah panjang tentunya wajib bagi kita bersama untuk melestarikannya. Supaya bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tersebut dapat menjadi “monumen” pertanda sejarah bagi kita dan generasi mendatang.

 

 Penulis : Fuad Faizin