Masjid Menara Kudus : Monumen Alkulturasi Kebudayaan Nusantara

 Kembali ke daftar artikel 

Sunan Kudus salah satu dari sembilan wali 

Pertumbuhan dan perkembangan Islam di Kepulauan Nusantara pada perjalanannya banyak diinisiasi oleh para mubaligh. Di bumi Jawadwipa khususnya , sejarah perkembangan agama Islam tidak dapat terlepas dari sejarah perjuangan para wali yang kemudian masyhur dikenal sebagai Wali Sanga .Penyebaran agama Islam sendiri disebarkan kepada para penduduk tidak dalam satu waktu sekaligus namun secara berangsur-angsur.

Adapun dari kesembilan wali ,salah satunya ialah beliau Sunan Shodiq yang kemudian disebut Sunan Kudus.  Dalam telaah pustaka pada buku Sejarah Islam karangan Drs. H. Moh Rifai pada halaman 75 tertulis bahwa Ja’far Shadiq ialah nama Sunan Kudus. Beliau adalah putera dari Raden Usman Haji yang kemudian bergelar Sunan Ngudung. 

Sunan Kudus sendiri melakukan penyebaran agama Islam melalui cara-cara alkulturasi di banyak daerah utamanya pesisir sebelah utara Jawa Tengah. Sunan Kudus sendiri pernah menjabat sebagai senopati Kerajaan Demak. 

 Sepenggal Riwayat Cerita Sunan Kudus 

Pada  awal abad ke-16 tepatnya pada  tahun 1527 M, Demak yang dipimpin oleh Raja ketiganya  Sultan Trenggono berhasil menaklukan Daha yang tidak lain ialah Kediri dibawah pusaran Majapahit pada masa akhir kejayaanya. Selain Raja ,tokoh sentral  yang berperan dalam peristiwa itu ialah Sunan Kudus yang bertindak sebagai senopati ketika penaklukan berlangsung.Sunan Kudus kemudian diangkat menjadi khatib  serta imam Masjid Demak menggantikan ayahnya,Sunan Ngudung. 

Dalam catatan  sejarah Kerajaan Demak hingga Mataram, nama Sunan Kudus memang tidak begitu banyak disebut. Hal itu   dikarenakan beliau memutuskan menanggalkan segala gelarnya di Kerajaan Demak. Pada tahun 1543 M,tiga tahun sebelum Sultan Trenggono mangkat,Sunan Kudus  resmi keluar dari kerajaan Demak kemudian mulai merintis wilayah mandiri .Sekitar enam tahun berselang, tepatnya pada tahun 1549 M Sunan Kudus mengumumkan peresmian Masjid Al Aqsa yang sekaligus menandai  berdirinya negeri yang ia namai “Kudus”. Masjid Al Aqsa kemudian dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus seperti yang ditulis Drs.Rifai dalam bukunya , tempat Sunan Kudus mengajarkan agama kemudian diberi nama Kudus yang berasal dari bahasa Arab  “Quds” yang berarti suci.

Kini setelah  hampir lima abad  lebih berlalu ,Masjid Al Aqsa masih berdiri kokoh.Masjid ini terletak di kawasan cagar budaya bersama dengan menaranya yang menawan serta makam Sang pendirinya yang terletak di belakang masjid.

Selayang Pandang Masjid Menara Kudus

Dahulu ,pada akhir abad 15 Kerajaan Hindu-Majapahit merupakan kerajaan yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Pulau Jawa. Hingga akhirnya Islam masuk dan Kota Demak menjadi pusat perkembangan agama Islam dengan bimbingan Sunan Kalijaga. Sunan Kudus memutuskan berpisah dari Sunan Kalijaga dan menyebarkan ajaran Islam di Kota Kudus. Kota Kudus pun berkembang seiring dengan berkembangnya Kota Demak.

 Kawasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus sendiri terletak di  Desa Kauman ,Kudus Jawa Tengah.Kawasan cagar budaya ini terdiri dari dua areal utama yaitu masjid dan makam. Kota Kudus yang merupakan ibukota Kabupaten Kudus memiliki luas 422,21 km2. Kudus berjarak 24 km ke arah timur laut dari Kota Demak dan berada dekat dengan Gunung Muria. Kudus dan Demak dihubungkan melalui Semarang yang pada saat itu merupakan ibukota dari Jawa Tengah.Masjid Kudus menjadi bukti persebaran Islam di Pulau Jawa yang tidak lepas dari peran sembilan wali. 

Masjid Menara Kudus dalam Rangka Angka 

Pada video milik Creativlabs  digambarkan melalui animasi bagaimana perkembangan Masjid Menara Kudus.  Terhitung sejak didirikan tahun 956 H atau 1549 M ,Masjid Al Aqsa sekurang-kurangnya telah mengalami masa empat kali renovasi.Seiring bertambahnya jamaah ,renovasi pertama dilakukan pada tahun 1918 untuk memperluas ruang salat utama.Hal ini sejalan dengan penuturan Prof.DR Inajati Ardisijanti M.Romli.Beliau yang seorang pakar arkeologi UGM Yogyakarta menuturkan  bahwa masjid menara itu aslinya tidak sebesar seperti yang sekarang .Karena pintu gerbang yang paling dalam sekarangberada di tengah ruang utama masjid. 

Untuk renovasi kedua ,dilakukan pada tahun 1926 . Hal ini dilakukan melalui cara memperluas bagian depan masjid dengan menambah bagian serambi dalam.Renovasi berlanjut tahun 1933 ,dengan menambahkan lagi serambi luar sehingga menutup lawang kembar di sisi timur dan yang kemudian ditambahkan kubah diatasnya. Adapun pada renovasi keempat dilakukan pada tahun 1953 yang berfokus pada menambah ketinggian atap masjid.Renovasi keempat juga dilakukan melalui penggantian mustaka masjid.

Kini ,area Masjid Al Aqsa diawali dengan gapura bentang.Kemudian serambi luar,serambi dalam,dan ruang salat utama. Khusus untuk serambi luar dahulu ternyata adalah halaman masjid tanpa atap dengan lantai yang masih berupa tanah. Kini ,selain berfungsi sebagai tempat salat serambi luar juga diberfungsikan sebagai tempat menggelar acara agama , pernikahan, hingga kesenian khas Kota Kretek Kudus  berupa Terbang Papan.

Kepingan Mozaik Alkulturasi Masjid Menara Kudus

Seorang Pakar Arsitektur dari UII Yogyakarta ,DR.Revianto Budi Santosa , M.Arch menuturkan  bahwa Masjid Kudus ialah bentuk ringkasan dari dinamika peradaban Islam di Nusantara dalam dokumentasi video milik Creativelabs bertajuk Arsitektur Masjid dan Makam Sunan Kudus tertanggal 18 Juli 2018. Kawasan cagar budaya Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus menyimpan artefak lintas budaya yang menegaskan peradaban bahwa Islam adalah kelanjutan dan pembarahuan  masa Hindu-Jawa Kuno. Konsekuensi pilihan ini adalah tindakan alkuturatif yang tidak menghilangkan sama sekali bentuk sebelumnya.Hal tersebut sangat terlihat dalam ragam arsitektur menara,masjid dan makam Sunan Kudus yang sangat menarik untuk ditelusuri.

Pada telaah pustaka yang dilakukan , menurut Andanti dalam Perpaduan Budaya Islam dan Hindu dalam Masjid Menara Kudus ,Masjid  ini diklasifikasikan sebagai masjid
komunitas. Masjid Menara Kudus diklasifikasikan menjadi masjid komunitas karena fungsinya sebagai tempat pelaksanaan ibadah bagi komunitas-komunitas di sekitar masjid. Berbeda dengan Masjid Demak yang diklasifikasikan sebagai masjid jami karena fungsinya sebagai masjid provinsi. Berdasarkan analisis bangunannya ,Andanti juga menambahkan bahwa Masjid Menara Kudus memiliki luas kurang lebih 5000 m2 dengan tembok-tembok membatasi sekeliling masjid dengan perkampungan disekitarnya. Untuk memasuki Masjid Menara Kudus dapat melalui dua gerbang yang disebut Gapura Bentar. Gerbang ini terletak di bagian utara dan selatan.Gerbang utara merupakan akses utama untuk langsung masuk ke dalam masjid. Sedangkan gerbang selatan merupakan gerbang yang menuju kompleks pemakaman. Nama Gapura Bentar sendiri diambil dari istilah Hindu yang berarti gerbang. Dalam memasuki Masjid Menara Kudus tidak ada prosesi khusus.Berbeda dalam bangunan pura yang memiliki aturan khusus dalam memasuki bangunan. Namunpenamaan dua gerbang utama dalam Masjid Menara Kudus menunjukkan masih kuatnya pengaruh kebudayaan Hindu dalam pembangunan masjid. Hal ini sejalan dengan pendapat Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia , Nugroho menuliskan bahwa pemeluk agama Islam memiliki masjid untuk peribatan dengan bentuk fisik yang berbeda pada arsitektur bangunannya sebagai bentuk alkulturasi budaya . Perbedaan itu salah satunya terdapat dalam bentuk susunan atap yang bertingkat-tingkat.

 Implementasinya terdapat pada bagian menara dalam Masjid Menara Kudus menjadi hal yang dominan secara visual. Menara Kudus dibangun dengan material bata merah dengan luas 100 m2 dan tinggi 18 m. Di bagian bawah menara terdapat ukiran dengan motif Hindu. Bagian atap menara terdiri dari atap tajug dua tingkat dengan empat kolom yang menompangnya. Hal ini menunjukkan elemen-elemen Hindu yang diaplikasikan dalam pembangunan menara. Selain dari material bangunan yang berbeda dengan bangunan masjid, proporsi dan bentuk dari Menara Kudus juga menunjukkan elemen Hindu yang mendominasi dalam kompleks Masjid Menara Kudus.

Elemen-elemen budaya Jawa Hindu dalam suatu bangunan dapat terlihat dari pembagian candi menjadi tiga bagian, yaitu bagian kaki, badan, dan kepala. Bagian atas dari bangunan berupa atap bangunan yang bertingkat. Bagian paling atas dari atap akan dihias dengan ornamen-ornamen Hindu. Ornamen-ornamen Hindu tersebut dapat berupa atap. Menara Kudus mengambil atap tajug bertingkat dua yang mengambil dari budaya Hindu. Walaupun Masjid Menara Kudus mengadaptasi beberapa budaya Hindu, namun orientasi utama bangunan masjid dan menara tetap mengarah ke Ka’bah. Hal ini menunjukkan walaupun terdapat penerapan budaya Hindu dalam Masjid Menara Kudus namun pedoman utama
dalam membangun Masjid Menara Kudus tetaplah pedoman-pedoman yang berasal dari agama Islam. Hal ini sejalan dengan Orientasi Masjid Menara Kudus yang tetap mengarah ke arah Ka’bah di Mekkah seperti dalam telaah pustaka halaman 109 pada  Demak, Kudus, and Jepara Mosques: A Study of Architectural Syncretism .

Dengan demikian , Prinsip penyebaran agama Islam menjelaskan bahwa untuk membuat orang-orang mengikuti agama Islam tidak dengan cara memaksa tetapi harus dengan pendekatan terhadap masyarakat terlebih dahulu agar nilai-nilai yang ada dalam agama Islam dapat diserap dengan baik oleh masyarakat setempat. Prinsip tersebut kemudian diadopsi oleh Sang Pendiri. Masjid Menara Kudus menerapkan budaya Hindu dalam bangunannya.Namun, pembangunan masjid ini tetap menggunakan prinsip agama Islam sebagai pedoman utamanya. 

Perpaduan budaya Islam dan Hindu dalam Masjid Menara Kudus menunjukkan torelansi antar agama Islam dan Hindu pada zamannya namun tetap berpedoman pada agama Islam. Unsur perpaduan dua budaya yang begitu kental ini tentunya menjadi khasanah kebudayaan kita  . Sudah waktunya untuk melindungi dan melestarikannya !