Menilik Kemegahan Mausoleum Oen Giok Khouw Khouw Di Petamburan, Jakarta

 Kembali ke daftar artikel 

Ketika anda masuk ke dalam Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, ada satu pemandangan yang cukup mencolok dibandingkan dengan pemandangan sekitarnya di TPU. Bangunan tinggi berlapis marmer tersebut adalah mausoleum dari Oen Giok Khouw. Tapi, siapakah insan yang disemayamkan di makam tersebut?

Oen Giok Khouw merupakan seorang pengusaha, dan filantropis berketurunan Tionghoa di Hindia Belanda. Ia lahir di Batavia pada 9 Juni 1879 dengan keluarga ‘bangsawan’ Tionghoa Hindia Belanda yang dimana banyak diantara kerabatnya menjadi letnan, kapitan, hingga mayor seperti mayor terakhir Batavia, yaitu Khouw Kim An.  Bank kolonial Than Kie, dan perusahaan Tendjoe Ajoe yang bergerak di bidang teh dan karet, merupakan pundi-pundi uang miliknya.

Ia juga dikenal sebagai seorang filantropis. Salah satu buktinya adalah pernah ia menyumbangkan empat puluh ribu gulden untuk palang merah Belanda. Seringkali ia juga menyumbang ke organisasi Tionghoa di Indonesia yaitu Tiong Hoa Hwee Koan.

 Uniknya lagi, ia merupakan salah satu orang Tionghoa yang pertama kali mencukur rambut kepangnya dan menjadi setara dengan orang-orang Eropa dalam strata sosial Hindia Belanda dengan menjadi warga negara Belanda pada 1908. Hal yang cukup radikal pada masanya terutama pada waktu itu orang Tionghoa merupakan warga kelas dua di bawah orang-orang Eropa. Hidupnya juga banyak dihabiskan di Eropa terutama di Swiss dan Perancis selatan. Itulah mengapa seseorang yang meninggal pada 1 Juli 1927 di Ragaz, Swiss ini memiliki mausoleum yang dibangun dengan bergaya Eropa daripada bergaya Tionghoa.

Figure 1 Mausoleum dari luar pagar (dokumentasi pribadi)

Mausoleum ini menjadi landmark dari TPU tersebut karena bentuknya yang megah dan berbeda dibandingkan makam lainnya. Apalagi, biaya yang dihabiskan untuk membuat makam ini tergolong fantastis pada masanya. Total sekitar Lima ratus ribu gulden atau sesuai kurs sekarang setara dengan kurang lebih 65 miliar rupiah yang telah dihabiskan untuk membuat makam ini. Angka ini dua kali lebih besar daripada pembangunan Hotel Grand Preanger yang berdiri megah di tengah kota Bandung.

Makam ini dilapisi oleh marmer hitam yang didatangkan langsung dari Italia ke Hindia Belanda dan didesain oleh seorang konstraktor Italia bernama G. Racina. Plakat perusahaan, dan namanya masih bisa ditemukan di gerbang dari kompleks mausoleum yang merupakan bagian dari kompleks pemakaman keluarga Khouw.  

Figure 2 Di bagian dalam mausoleum (dokumentasi pribadi)

Jika dilihat, mausoleum ini merupakan campuran dari beberapa gaya bangunan. Pilar-pilar Yunani berordo ionia, dan pilaster-pilaster berordo doric  juga beberapa ornamen-ornamen lain menyiratkan pengaruh neo klasik pada bangunan ini. Lekukan-lekukan dan ornamen-ornamen yang menghiasi mausoleum ini juga menyiratkan gaya art deco yang sedang populer pada masa itu. Atapnya yang berbentuk kubah mengingatkan kepada kubah yang sering digunakan untuk bangunan-bangunan pada masa Renaisans di Eropa dengan garis-garis art deco. Ketika melihat kedalam, terdapat dua batu berbentuk peti mati dengan ‘gunungan’ di belakangnya yang sering ditemukan di makan-makam orang Tionghoa. Namun, bentuknya lebih simpel dibandingkan dengan makam-makam orang Tionghoa seperti biasanya walaupun tetap berkesan megah karena dilapisi dengan marmer hitam. Di belakangnya juga terdapat patung malaikat.

Figure 3 Bagian atas mausoleum (dokumentasi pribadi)

Mausoleum ini sendiri menyimpan makam di bagian bawah yang tangganya berada di bagian belakang dari mausoleum. Di bagian atas dari pintu masuk dari mausoleum, terdapat tulisan rust in vrede yang artinya beristirahat dengan tenang. Di dalam mausoleum, terdapat makam dari Oen Giok Khouw dan istrinya. Ia tidak memiliki anak sehingga hanya ada dua orang yang dimakamkan di tempat tersebut. Ketika menilik dari bagian luar mausoleum, terdapat 2 pahatan karangan bunga yang menempel di dinding marmer. Dinding tersebut merupakan bagian dari ruang yang memuat abu atau jasad dari pasangan tersebut. Selain abu atau jasad dari Oen Giok Khouw dan istrinya, terdapat juga benda-benda favoritnya semasa hidup, salah satunya adalah piano kesayangannya.

Penulis : Muhammad Faiz