Merawat Riwayat : Pesona Masjid Agung Kauman Yogyakarta

 Kembali ke daftar artikel 

Yogyakarta-April 2020 : Dalam banyak tutur, Kota Yogyakarta mengalir bukan saja menjadi rumah pergerakan dan kegiatan kebangsaan. Yogyakarta menjelma pula menjadi “ibu” tempat lahirnya peradaban Islam di tanah Jawa. Melalui bentangan Keraton, tumbuh pula pesona Islami Nusantara, Kagungan Dalem Masjid Gede Kauman Yogyakarta.

Dalam bentuk kolektif memori, Masjid Gede terhubung erat dengan Kampung Kauman. Ternukil dalam catatan sejarah, Sultan Hamengku Buwono I mengeluarkan dawuh untuk membangun Masjid Agung pada tahun 1773 yang terletak di sebelah barat alun-alun. Pembangunan masjid ini bertujuan sebagai tempat mengadakan kegiatan keagamaan yang diadakan oleh Keraton. Guna mengelola masjid tersebut Sultan Hamengku Buwono I memberikan sebidang tanah di sekitar masjid kepada Abdi Dalem dan ulama. Dalam mengelola Masjid Agung, dibentuklah sebuah lembaga yang bernama Kapenguluan yang bertugas mengelola masjid tersebut, sedangkan kantor dari kapenguluan tersebut dinamakan Kapengulon.

Merunut tarikh, Masjid Gede didirikan pada tanggal 29 Mei 1773 melalui prakarsa Sultan serta Kyai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat. Pembangunan kemudian dipimpin arsitek Kyai Wirokusumo. Tahun berganti, guna menampung jama’ah lebih banyak, Masjid Kauman melakukan penambahan serambi pada tahun 1775 pada hari Kamis Kliwon. Selain dipakai untuk beribadah, serambi masjid juga diperuntukan  sebagai tempat “ Al Mahkamah Al Kabiroh” , yaitu tempat alim ulama dan pengajian dakwah termasuk mahkamah yang mengurusi sendi-sendi kemasyarakatan semisal keagamaan, pernikahan hingga peringatan hari besar agama Islam. Jika dilihat dari tata letaknya, masjid ini tepat berada disebelah barat dari alun-alun utara Yogyakarta. Bangunan induk masjid ini berbentuk limasan dan memiliki atap bertumpang tiga yang diatasnya terdapat mustaka. Di sebelah utara dan selatan masjid terdapat bangunan yang bernama Pagongan, bangunan ini berfungsi sebagai tempat gamelan pusaka yang digunakan pada saat acara sekaten. Pada tahun 1840 , masjid juga semakin diperlengkap melalui pembangunan “regol masjid” . Kini regol masjid kita kenal sebagai Gapuro yang mengisyaratkan  “ghofur” ,perwakilan ampunan dari dosa .

Bumi Mataram Islam kemudian digoncang gempa dahsyat pada 1867 , menimbulkan runtuhnya bangunan serambi masjid. Tahun 1917, masjid kembali dilengkapi dengan dibangunnya gedung pajagan sebagai tempat prajurit kraton mengendalikan keamanan masjid tiap hari besar Islam. Kala zaman revolusi memuncak, gedung ini digunakan untuk membantu Tentara Nasional melawan serangan Belanda pada saat agresi. Ketika masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, pada tahun 1933 lantai pada bagian serambi yang semula berbahan batu kali diganti dengan tegel kembangan. Termasuk pula didalamnya pergantian atap masjid ke dalam bentuk seng wiron dari yang awalnya berbahan sirap. Selang tiga tahun, atas prakarsa Sinuwun HB VIII pula, lantai dasar masjid diganti dengan marmer dari negeri menara Pisa, Italia.

Dalam analisa bangunan, bangunan utama masjid dengan denah berbentuk bujur sangkar dengan luas lantai 1.296 m2. Struktur bangunan terdiri dari pondasi berbahan batu kali dan batu marmer, empat buah soko guru sebagai kolom utama yang mendukung atap, kolom-kolom tambahan sebagai pendukung atap bertingkat, dan konstruksi tumpangsari pada balok pengikat kolom dan struktur atap tajug bertingkat tiga. Makna simbolis  begitu kentara menyusun rancangan ini. Konstruksi Tajug bersusun  tiga memiliki makna terkait dengan tingkatan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan buana Hageng / Makrokosmos = yang berarti Hablumminallah serta buana alit / Mikrokosmos berarti hablum minannas. Dalam kegiatan telaah pustaka yang ditemukan pada tulisan mengenai Keragaman Struktur Bangunan Masjid Islam Jawa (Studi Kasus : Bangunan Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta) Endang Setyawati Universitas Teknologi Yogyakarta) menunjukkan bahwa bangunan masjid Gedhe Keraton Yogyakarta memiliki beberapa ciri struktur berupa Struktur Tajug, Joglo dengan 3 buah tumpangsari, cungkup, Semar Tinandu, Selasar dan Menara. Dalam pola strukturnya ada budaya Islam, Jawa dan Kolonial. Nilai keunikan bertambah manakala adanya tempat khusus bagi Sinuwun Hamengkubowono di bagian kiri mihrab yang bernama Maksura. Selain itu , Masjid Kauman juga dilengkapi mimbar yang diperuntukkan bagi khatib ketika beribadah Salat Jumat. Mimbar dibuat bersusun dan bertingkat seumpama sebuah singgasana.

Menyimpan cerita sejarah sarat muatan makna, kebesaran nilai filosofis dan sejarah panjang masjid ini akan membuat siapa saja yang bertandang merasa melewati mesin waktu dan pesona  kebudayaan Jawa yang adiluhung.

 

 

 

Sumber :

Kamus Bahasa Indonesia Luar Jaringan : pengertian tarikh ,ternukil ,pesona ,adiluhung.

Genpi Jogja dalam Masjid Gedhe Kauman Jogja Simbol Akulturasi Jawa-Islam

 Telaah Pustaka dan Audio Visual Website official Masjid Agung Kauman dan Youtube Kraton Yogyakarta

 Telaah Pustaka melalui Prosiding Seminar Nasional Sustainable Architecture And Urbanism 2016 Universitas Diponegoro (Keragaman Struktur Bangunan Masjid Islam Jawa Studi Kasus : Bangunan Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta Endang Setyawati  Universitas Teknologi Yogyakarta)

Telaah Pustaka melalui Manajemen Sejarah Berbasis Komunitas: Pengembangan Kawasan Kauman sebagai Living Museum Nur Aini Setiawati Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah MadaVol. 1 No. 1 April 2018

Yogyakarta-April 2020 : Dalam banyak tutur, Kota Yogyakarta mengalir bukan saja menjadi rumah pergerakan dan kegiatan kebangsaan. Yogyakarta menjelma pula menjadi “ibu” tempat lahirnya peradaban Islam di tanah Jawa. Melalui bentangan Keraton, tumbuh pula pesona Islami Nusantara, Kagungan Dalem Masjid Gede Kauman Yogyakarta.

Dalam bentuk kolektif memori, Masjid Gede terhubung erat dengan Kampung Kauman. Ternukil dalam catatan sejarah, Sultan Hamengku Buwono I mengeluarkan dawuh untuk membangun Masjid Agung pada tahun 1773 yang terletak di sebelah barat alun-alun. Pembangunan masjid ini bertujuan sebagai tempat mengadakan kegiatan keagamaan yang diadakan oleh Keraton. Guna mengelola masjid tersebut Sultan Hamengku Buwono I memberikan sebidang tanah di sekitar masjid kepada Abdi Dalem dan ulama. Dalam mengelola Masjid Agung, dibentuklah sebuah lembaga yang bernama Kapenguluan yang bertugas mengelola masjid tersebut, sedangkan kantor dari kapenguluan tersebut dinamakan Kapengulon.

Merunut tarikh, Masjid Gede didirikan pada tanggal 29 Mei 1773 melalui prakarsa Sultan serta Kyai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat. Pembangunan kemudian dipimpin arsitek Kyai Wirokusumo. Tahun berganti, guna menampung jama’ah lebih banyak, Masjid Kauman melakukan penambahan serambi pada tahun 1775 pada hari Kamis Kliwon. Selain dipakai untuk beribadah, serambi masjid juga diperuntukan  sebagai tempat “ Al Mahkamah Al Kabiroh” , yaitu tempat alim ulama dan pengajian dakwah termasuk mahkamah yang mengurusi sendi-sendi kemasyarakatan semisal keagamaan, pernikahan hingga peringatan hari besar agama Islam. Jika dilihat dari tata letaknya, masjid ini tepat berada disebelah barat dari alun-alun utara Yogyakarta. Bangunan induk masjid ini berbentuk limasan dan memiliki atap bertumpang tiga yang diatasnya terdapat mustaka. Di sebelah utara dan selatan masjid terdapat bangunan yang bernama Pagongan, bangunan ini berfungsi sebagai tempat gamelan pusaka yang digunakan pada saat acara sekaten. Pada tahun 1840 , masjid juga semakin diperlengkap melalui pembangunan “regol masjid” . Kini regol masjid kita kenal sebagai Gapuro yang mengisyaratkan  “ghofur” ,perwakilan ampunan dari dosa .

Bumi Mataram Islam kemudian digoncang gempa dahsyat pada 1867 , menimbulkan runtuhnya bangunan serambi masjid. Tahun 1917, masjid kembali dilengkapi dengan dibangunnya gedung pajagan sebagai tempat prajurit kraton mengendalikan keamanan masjid tiap hari besar Islam. Kala zaman revolusi memuncak, gedung ini digunakan untuk membantu Tentara Nasional melawan serangan Belanda pada saat agresi. Ketika masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, pada tahun 1933 lantai pada bagian serambi yang semula berbahan batu kali diganti dengan tegel kembangan. Termasuk pula didalamnya pergantian atap masjid ke dalam bentuk seng wiron dari yang awalnya berbahan sirap. Selang tiga tahun, atas prakarsa Sinuwun HB VIII pula, lantai dasar masjid diganti dengan marmer dari negeri menara Pisa, Italia.

Dalam analisa bangunan, bangunan utama masjid dengan denah berbentuk bujur sangkar dengan luas lantai 1.296 m2. Struktur bangunan terdiri dari pondasi berbahan batu kali dan batu marmer, empat buah soko guru sebagai kolom utama yang mendukung atap, kolom-kolom tambahan sebagai pendukung atap bertingkat, dan konstruksi tumpangsari pada balok pengikat kolom dan struktur atap tajug bertingkat tiga. Makna simbolis  begitu kentara menyusun rancangan ini. Konstruksi Tajug bersusun  tiga memiliki makna terkait dengan tingkatan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan buana Hageng / Makrokosmos = yang berarti Hablumminallah serta buana alit / Mikrokosmos berarti hablum minannas. Dalam kegiatan telaah pustaka yang ditemukan pada tulisan mengenai Keragaman Struktur Bangunan Masjid Islam Jawa (Studi Kasus : Bangunan Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta) Endang Setyawati Universitas Teknologi Yogyakarta) menunjukkan bahwa bangunan masjid Gedhe Keraton Yogyakarta memiliki beberapa ciri struktur berupa Struktur Tajug, Joglo dengan 3 buah tumpangsari, cungkup, Semar Tinandu, Selasar dan Menara. Dalam pola strukturnya ada budaya Islam, Jawa dan Kolonial. Nilai keunikan bertambah manakala adanya tempat khusus bagi Sinuwun Hamengkubowono di bagian kiri mihrab yang bernama Maksura. Selain itu , Masjid Kauman juga dilengkapi mimbar yang diperuntukkan bagi khatib ketika beribadah Salat Jumat. Mimbar dibuat bersusun dan bertingkat seumpama sebuah singgasana.

Menyimpan cerita sejarah sarat muatan makna, kebesaran nilai filosofis dan sejarah panjang masjid ini akan membuat siapa saja yang bertandang merasa melewati mesin waktu dan pesona  kebudayaan Jawa yang adiluhung.

 

 

 

Sumber :

Kamus Bahasa Indonesia Luar Jaringan : pengertian tarikh ,ternukil ,pesona ,adiluhung.

Genpi Jogja dalam Masjid Gedhe Kauman Jogja Simbol Akulturasi Jawa-Islam

 Telaah Pustaka dan Audio Visual Website official Masjid Agung Kauman dan Youtube Kraton Yogyakarta

 Telaah Pustaka melalui Prosiding Seminar Nasional Sustainable Architecture And Urbanism 2016 Universitas Diponegoro (Keragaman Struktur Bangunan Masjid Islam Jawa Studi Kasus : Bangunan Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta Endang Setyawati  Universitas Teknologi Yogyakarta)

Telaah Pustaka melalui Manajemen Sejarah Berbasis Komunitas: Pengembangan Kawasan Kauman sebagai Living Museum Nur Aini Setiawati Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah MadaVol. 1 No. 1 April 2018