Museum Pegerakan Wanita Indonesia “Jejak Perjuangan Wanita”

 Kembali ke daftar artikel 

Museum Pergerakan Wanita Indonesia dikenal dengan berbagai nama, seperti Gedung Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, Gedung Wanita, atau biasa dikenal dengan Gedung Mandala Bhakti Wanitatama. Gedung tersebut merupakan sebuah bentuk perwujudan keinginan wanita Indonesia dalam mendirikan monumen yang menandai kesatuan gerak dan langkah wanita Indonesia dalam perjuangan, yang berlandaskan pada cita-cita Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta.

Museum Pergerakan Wanita, merupakan monumen yang salah satunya dijadikan sebuah museum. Pembagunan monumen ini pada dasarnya merupakan sebuah penugasan dari Yayasan Hari Ibu yang didirikan  pada tanggal 15 Desember 1953. Penasehat Yayasan Hari Ibu pada saat itu adalah Almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, berkat jasa beliau monumen tersebut menempati lokasi yang strategis yakni di Jl. Laksda Adisucipto No.88 Yoygyakarta.

Museum ini berisi berbagai macam benda koleksi berupa realia, ilustrasi foto peranan wanita pada masa lalu, dan diorama yang menunjukkan bagaimana perjuangan wanita Indonesia dari masa ke masa. Koleksi yang dimiliki museum ini terdiri dari berbagai jenis lukisan tokoh wanita, pakaian dinas, mesin ketik, diorama, foto, peralatan rumah tangga, peralatan kantor, dan numismatik.

22 Desember 1953, merupakan tanggal peletakan batu pertama pembangunan monumen gedung ini, tepat pada puncak peringatan Seperempat Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia oleh Ibu Soekonto (Ketua Kongres Perempuan Indonesia Pertama tahun 1928). Pembangunan gedung ini dilaksanakan secara bertahap dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1983 dan dipersembahkan pada khalayak umum terutama kepada pergerakan wanita.

Gedung monumen ini memiliki berbagai fasilitas, diantaranya: Tempat Penginapan (Wisma Arimbi dan Sembrodo), Balai Pertemuan (Gedung Utari, Kunthi, Shinta), Tempat Pendidikan (TK dan SMK Karya Rini), dan Museum (Gedung Srikandi). Sedangkan untuk pendirian museum, pada awalnya direncanakan dalam Tim Yayasan Kowani sejak 30 Mei 1957. Bahwa Museum Perjuangan Wanita di “Gedung Persatuan Wanita Indonesia” di Yogyakarta, yang direncanakan sebagai tempat penyimpanan dokumen bersejarah dan untuk memberikan ciri khas Gedung Persatuan Wanita Indonesia sebagai monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia.

Pada Peringatan 40 Tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, diresmikanlah Museum perjuangan Wanita Indonesia di Gedung Persatuan Wanita Indonesia pada tanggal 21 Januari 1969, dengan menempati Gedung II yang sekarang merupakan wisma Sembodro. Tempat museum sering berpindah-pindah, yang pada akhirnya diputuskan agar menempati Gedung Srikandi.

Sebelum difungsikan menjadi museum, bangunan Srikandi dibangun pada tanggal 17 Agustus 1955 dengan peletakan batu pertama pada tanggal 22 Desember 1953, lalu diresmikan pada tanggal 20 Mei 1956. Satu hari setelah peresmian, gedung ini digunakan untuk Taman Kanak-Kanak dan kursus kader wanita. Pada tanggal 22 Desember 1983, keseluruhan bangunan (balai pertemuan, wisma, tempat pendidikan , dan museum) lalu diresmikan menjadi museum.

Museum ini buka setiap hari Senin-Jumat pukul 07.30-15.00 WIB, hari Sabtu pukul 07.30-14.00 WIB, sedangkan hari Minggu dan libur nasional tutup. Bagi anda yang memiliki ketertarikan tinggi tentang pergerakan wanita, sangat cocok jika berkunjung ke Museum ini. Mari turut lestarikan sejarah dan dunia per-museuman di Indonesia!

 

Sumber : Buku Museum di Daerah Istimewa Yogyakarta “Jendela Memaknai Peradaban Zaman”

Tulisan Karya : Ailla Salsabilla