Pontianak Dan Kuliner Khas-nya

 Kembali ke daftar artikel 

 

Jika berbicara tentang kota yang kaya akan kuliner, maka jangan lupa untuk menyantumkan Kota Pontianak sebagai daftar teratasnya. Kota yang dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa ini cukup kaya akan kuliner khas, yang mana sebagian besar kulinernya justru mendapat pengaruh dari berbagai etnis yang menjadi bagian dari penduduk kota yang dibelah oleh Sungai Kapuas tersebut. Sebut saja seperti Melayu, Dayak, dan Tionghoa menjadi etnis utama yang banyak menanamkan pengaruh mereka pada wajah Pontianak. Namun jika membahas tentang kuliner, maka etnis Tionghoa-lah yang memegang jawara dalam menghasilkan makanan khas Pontianak. Berikut ini akan ada sedikitnya tiga kuliner khas Pontianak yang mendapat pengaruh dari budaya Tionghoa, baik dari penamaannya hingga cara penyajiannya.

1. Chai Kue

Istilah ‘Chai’ diambil dari bahasa Tio Chiu berarti sayur, sedangkan kata ‘Kue’ merupakan istilah yang diadaptasi dari bahasa Hokkian, sehingga Chai Kue dapat diartikan sebagai kue yang diisi sayur. Sekilas, wujud dari chai kue ini sendiri hampir menyerupai pangsit dalam ukuran kecil. Kulit chai kue bertekstur lembut dan kenyal, karena dibuat dari adonan tepung beras dan maizena. Adonan inilah yang kemudian akan diisi dengan sayur, seperti bengkuang, kucai, hingga keladi. Sayur ini akan diisi sesuai dengan pemintaan pembeli. Setelah itu, chai kue disiapkan untuk kemudian dikukus.

Penyajian dari chai kue juga tergolong unik, karena ditata sedemikian rupa. Layaknya penyajian makanan dimsum, chai kue disajikan dalam wadah lingkaran yang dialasi dengan daun pisang yang telah dilumuri minyak kelapa. Hal ini dilakukan agar chai kue tidak menempel pada daun. Tidak lupa, chai kue juga akan dipermanis dengan topping berupa remahan bawang goreng yang dicampur dengan sedikit minyak kelapa. Biasanya chai kue akan disajikan dalam satu wadah yang diisi oleh 10 buah, yang mana setiap buahnya seharga seribu hingga seribu lima ratus rupiah.

2. Ce Hunn    

Sama seperti chai kue, istilah Ce Hun Tiau juga diambil dari bahasa Tio Chiu. Ce berarti ubi, sedangkan Hun berarti Tepung, dan Tiau berkonotasi pada bentuk memanjang layaknya mie. Oleh karena itu, Ce Hun Tiau dapat diartikan sebagai tepung ubi yang dibuat memanjang seperti mie dengan warna putih transparan. Mungkin sekilas hampir berwujud seperti mi bihun, namun teksturnya jauh lebih lembut serta sedikit kenyal dengan bentuk potongan panjang yang lebih besar.

Biasanya penyajian dari Ce Hun Tiau ini ditemani oleh ketan hitam, kacang merah, serta bongko yang dilumuri oleh kuah santan. Kacang merah yang digunakan dalam Ce Hun Tiau berukuran lebih kecil untuk kacang merah biasanya yang digunakan dalam campuran sup. Bongko sendiri merupakan kue yang dibuat dari tepung hunk wee yang dicampur daun pandan, kerapkali juga dikenal sebagai Ati Pari dalam bahasa Melayu. Harga satu porsi Ce Hun Tiau hanya sekitar delapan ribu rupiah. Sangat disarankan untuk menambahkan es batu pada sajian Ce Hun Tiau, terlebih apabila ingin menyesuaikan diri dari cuaca Pontianak yang cukup panas di siang hari.

3. Liang Teh

Istilah Liang Teh juga berasal dari bahasa Tio Chiu. ‘Liang’ artinya dingin, sedangkan ‘Teh’ merujuk pada minuman teh. Liang Teh sendiri merupakan ramuan minuman yang dibuat dari rebusan berbagai tumbuhan herbal yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti kumis kucing, daun mint, dan lain-lain. Liang Teh biasanya tidak disajikan dalam bentuk dingin. Konotasi dingin dalam hal ini lebih merujuk pada khasiat dari Liang Teh itu sendiri yang mampu meredakan panas dalam bagi penikmatnya.

Liang teh terdiri dalam dua versi, yakni versi rasa manis dan versi rasa pahit. Namun banyak orang yang meyakini bahwa yang mampu meredakan panas dalam adalah Liang The yang versi pahit, karena merupakan ramuan alami yang tidak ditambah gula layaknya versi yang manis. Segelas Liang Teh manis ataupun pahit hanya seharga lima ribu rupiah, dan cukup enak dinikmati dalam keadaan hangat sambil menikmati suasana malam di Pontianak.

            Selain ketiga pilihan diatas, sebenarnya masih banyak lagi kuliner khas Pontianak yang wajib untuk dicicipi apabila sedang mengunjungi kota Pontianak. Mulai dari cemilan, makanan berat, hingga minuman segar dapat ditemukan dengan mudah di setiap sudut kota khatulistiwa ini. soal harga biasanya menyesuaikan, tegantung dari bahan baku seta pembuatan dari kuliner tersebut. Tak heran jika Pontianak kerapkali menjadi destinasi utama bagi pecinta kuliner. Oleh karena itu, sangat wajar jika Pontianak juga didapuk sebagai kota surganya kuliner.

 

Referensi :

 

Penulis : Selly Juanesa H