Secuil Memori Fort Cochius Dan Fort Van Der Wijck : Benteng Megah Di Kedu Selatan Saksi Bisu Perang Jawa.

 Kembali ke daftar artikel 

Terhampar susunan batu merah  yang menyusun tubuh benteng membujur menjadi bentuk “oktagonal” berdiri megah di wilayah administratif Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen. Bangunan seolah memancarkan sinyal, membuat ingatan siapa saja serasa kembali memutar waktu ke masa lampau. Memasuki kawasan yang dilindungi rimbunnya pohon peneduh, dari lorong satu ke lorong  lainnya tampak tersimpan lapisan kisah dan memoar dari beragam periode.

Tatkala Perang Jawa (1825-1830) berkobar, benteng berdenah segi delapan ini ternyata memainkan perannya yang cukup penting. Secara umum, kompleks benteng ini juga masih dikelilingi beberapa sisa peninggalan fasilitas milik militer  Sekolah Calon Tamtama (SECATA), yakni berupa barak tentara yang kini menjadi penginapan hingga bekas rumah dinas perwira militer di sekitaran benteng. Tak heran apabila nuansa militer di sekitar benteng juga sangat terasa. Oleh masyarakat umum dikenal sebagai Benteng Van Der Wijck, yakni sebuah taman rekreasi di kota Gombong.

Apabila ditarik kebelakang, kehadiran benteng ini sejalan dengan gemuruh perang sengit antara pemerintahan Kolonial Belanda dengan Pangeran Diponegoro. Pertempuran yang masyhur dikenang sebagai “Perang Jawa" ini berkobar dan berhasil membuat militer Belanda kelimpungan menghadapi strategi gerilya yang digencarkan Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya. Guna meredam perlawanan ini, Jenderal Frans David Cochius kemudian menerapkan siasat “benteng stelsel”, yaitu membangun dan memanfaatkan benteng guna mempersempit ruang gerak musuh, tempat perlindungan, pangkalan militer beserta tempat menyusun strategi penyerangan. Gombong dipilih menjadi salah satu daerah pangkalan militer guna mengimbangi daerah militer di Bagelen, Purworejo. Benteng ini juga merupakan  rangkaian dari benteng lain[selly har1] , seperti Benteng Ungaran dan Benteng Ambarawa. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Novida Abbas dalam bukunya yang bertajuk "Beberapa Benteng Belanda Di Jawa Tengah". Dalam buku tersebut dipaparkan bahwa terdapat banyak tinggalan arkeologi yang berbentuk benteng di wilayah Indonesia, salah satunya yakni Benteng Cochius.

Dahulu di daerah Sidayu dan Sempor, setiap malam prajurit Kebumen bergerilya karena disanalah Belanda bertahan dan akibat gempuran setiap malam dari gerilyawan maka kompeni Belanda kemudian membuat benteng pertahanan yakni di lokasi Benteng Van Der Wijck kini berdiri. Dalam buku berjudul “Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet “ karangan Yan Lubis diceritakan guna memblokade serangan kaum republikan dari arah Banyumas dan Kedu, Belanda kemudian membangun sebuah benteng di Gombong. Pada dekade 1840-an, kemudian dibangun menjadi sarana pertahanan militer dan diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) yang diilhami dari nama Letnan Jenderal Frans David Cochius, seorang komandan pasukan Belanda. Mengingat wilayah administratif Bagelen ini menjadi salah satu “trouble area”, maka kemudian posisi benteng menjadi penting dan diperhitungkan. Secara linear, bangunan benteng awal mulanya adalah sebuah kantor dagang milik VOC pada kisaran tahun sebelum 1840-an. Besarnya kekuatan pasukan Diponegoro yang menguasai daerah ini kemudian mendorong pihak Belanda membangun Benteng Cochius yang tuntas dibangun pada tahun 1848. Catatan lain dalam Javasche Courant tertanggal Juni 1839 memperjelas bahwa bangunan benteng dicatat sebagai “sebuah kekuatan “ bersamaan dengan benteng di Kertosono dan Bandung. Berdasarkan catatan ini, setidaknya dapat diambil sebuah informasi bahwa sekitar tahun 1839 dan atau sebelumnya siasat benteng stelsel telah diberlakukan dan telah mulai dibangunnya Benteng Cochius. Pada perkembangan zaman selanjutnya menurut  hasil analisis Ananda R dalam Benteng Van Der Wijck Gombong –Kebumen dan Pelurusan-nya, benteng ini kemudian berubah nama menjadi Fort Van Der Wijck, sebagai bentuk penghormatan terhadap seorang jenderal berkebangsaan Belanda bernama Jenderal Van Der Wijck. Belum diketahui secara gamblang apa yang melatarbelakangi perubahan nama ini selain dari ihubungan sebab-akibat dan penghormatan kepada tokoh bernama Carel Van Der Wijck  Budaya kota militer yang kental di wilayah ini juga tidak surut. Benteng kemudian beralih menjadi Pupillenschool (Sekolah Taruna Militer) pada tahun 1856. Pada masa pendudukan Jepang, benteng ini juga difungsikan sebagai tempat latihan para prajurit PETA.,

Setelah sempat menjadi kawasan tertutup kemudian ‘mati suri’ dan terlunta-lunta pada tahun 2000, bangunan benteng kemudian dipugar oleh vendor PT. Indo Power Gombong dan pada 5 Oktober 2000 benteng tersebut diresmikan oleh Kepala Staf TNI AD, Jenderal Tyasno Sudarto. Kini area benteng dikembangkan menjadi taman rekreasi keluarga yang dilengkapi dengan aneka wahana permainan, kereta di atap benteng, hingga kolam renang. Bangunan benteng terdiri dari dua lantai dengan desain bangunan yang melengkung. Pada atap ruangan masih bisa disaksikan, dimana “gancu”, atau tempat menggantung lampu yang digunakan sebagai penerangan di malam hari masih tertancap. Lantai ruangannya sendiri dilapisi dengan ubin hias.

Bangunan Benteng Cochius atau Van Der Wijck telah terdaftar sebagai bagian dari cagar budaya yang harus kita jaga. Pada Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, benteng ini masuk dalam kategori sebagai Banguna Cagar Budaya (BCB) melalui protokol SK Menteri no 184/M/2017 dengn hak milik dipegang oleh TNI Angkatan Darat.

Tak ada salahnya apabila setelah wabah pandemi ini selesai, Anda mencoba untuk mencoba beranjangsana ke Benteng yang memiliki khas berwarna merah ini, sekaligus menjejaki riwayat Sekolah Calon Tamtama tempat Presiden Soeharto menimba ilmu kemiliteran dahulu  Tak lupa berziarah ke permakaman Belanda yang tidak jauh dari lokasi benteng.

Salam Budaya !

Sumber dan Referensi :

Buku tulisan Novida Abbas bertajuk Beberapa Benteng Belanda di Jawa Tengah

Buku  tulisan Yan Lubis bertajuk Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet

Buku  bertajuk Sungai Lukulo :Perspektif Historis ,Geologis ,Ekonomi serta Sosial Budaya

Jurnal Sejarah : Tokoh Mayor Jenderal Frans David Cochius

Penelurusan Lapangan Lengkong Sanggar Ginaris “Anjangsana ke Benteng Van der wijck-Gombong”  dalam blog jejakkolonial.blogspot.com

Company Profile : Taman Wisata Sejarah Rekreasi Keluarga Hotel Wisata Benteng Van Der Wijck Gombong

Hasil analisis Ananda R “ Benteng Van Der Wijck : Kebumen dan Pelurusan Sejarahnya “ dalam blog kebumen2013.com

Javasche Courant tertanggal Juni 1839

Terhampar susunan batu merah  yang menyusun tubuh benteng membujur menjadi bentuk “oktagonal” berdiri megah di wilayah administratif Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen. Bangunan seolah memancarkan sinyal, membuat ingatan siapa saja serasa kembali memutar waktu ke masa lampau. Memasuki kawasan yang dilindungi rimbunnya pohon peneduh, dari lorong satu ke lorong  lainnya tampak tersimpan lapisan kisah dan memoar dari beragam periode.

Tatkala Perang Jawa (1825-1830) berkobar, benteng berdenah segi delapan ini ternyata memainkan perannya yang cukup penting. Secara umum, kompleks benteng ini juga masih dikelilingi beberapa sisa peninggalan fasilitas milik militer  Sekolah Calon Tamtama (SECATA), yakni berupa barak tentara yang kini menjadi penginapan hingga bekas rumah dinas perwira militer di sekitaran benteng. Tak heran apabila nuansa militer di sekitar benteng juga sangat terasa. Oleh masyarakat umum dikenal sebagai Benteng Van Der Wijck, yakni sebuah taman rekreasi di kota Gombong.

Apabila ditarik kebelakang, kehadiran benteng ini sejalan dengan gemuruh perang sengit antara pemerintahan Kolonial Belanda dengan Pangeran Diponegoro. Pertempuran yang masyhur dikenang sebagai “Perang Jawa" ini berkobar dan berhasil membuat militer Belanda kelimpungan menghadapi strategi gerilya yang digencarkan Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya. Guna meredam perlawanan ini, Jenderal Frans David Cochius kemudian menerapkan siasat “benteng stelsel”, yaitu membangun dan memanfaatkan benteng guna mempersempit ruang gerak musuh, tempat perlindungan, pangkalan militer beserta tempat menyusun strategi penyerangan. Gombong dipilih menjadi salah satu daerah pangkalan militer guna mengimbangi daerah militer di Bagelen, Purworejo. Benteng ini juga merupakan  rangkaian dari benteng lain , seperti Benteng Ungaran dan Benteng Ambarawa. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Novida Abbas dalam bukunya yang bertajuk "Beberapa Benteng Belanda Di Jawa Tengah". Dalam buku tersebut dipaparkan bahwa terdapat banyak tinggalan arkeologi yang berbentuk benteng di wilayah Indonesia, salah satunya yakni Benteng Cochius.

Dahulu di daerah Sidayu dan Sempor, setiap malam prajurit Kebumen bergerilya karena disanalah Belanda bertahan dan akibat gempuran setiap malam dari gerilyawan maka kompeni Belanda kemudian membuat benteng pertahanan yakni di lokasi Benteng Van Der Wijck kini berdiri. Dalam buku berjudul “Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet “ karangan Yan Lubis diceritakan guna memblokade serangan kaum republikan dari arah Banyumas dan Kedu, Belanda kemudian membangun sebuah benteng di Gombong. Pada dekade 1840-an, kemudian dibangun menjadi sarana pertahanan militer dan diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) yang diilhami dari nama Letnan Jenderal Frans David Cochius, seorang komandan pasukan Belanda. Mengingat wilayah administratif Bagelen ini menjadi salah satu “trouble area”, maka kemudian posisi benteng menjadi penting dan diperhitungkan. Secara linear, bangunan benteng awal mulanya adalah sebuah kantor dagang milik VOC pada kisaran tahun sebelum 1840-an. Besarnya kekuatan pasukan Diponegoro yang menguasai daerah ini kemudian mendorong pihak Belanda membangun Benteng Cochius yang tuntas dibangun pada tahun 1848. Catatan lain dalam Javasche Courant tertanggal Juni 1839 memperjelas bahwa bangunan benteng dicatat sebagai “sebuah kekuatan “ bersamaan dengan benteng di Kertosono dan Bandung. Berdasarkan catatan ini, setidaknya dapat diambil sebuah informasi bahwa sekitar tahun 1839 dan atau sebelumnya siasat benteng stelsel telah diberlakukan dan telah mulai dibangunnya Benteng Cochius. Pada perkembangan zaman selanjutnya menurut  hasil analisis Ananda R dalam Benteng Van Der Wijck Gombong –Kebumen dan Pelurusan-nya, benteng ini kemudian berubah nama menjadi Fort Van Der Wijck, sebagai bentuk penghormatan terhadap seorang jenderal berkebangsaan Belanda bernama Jenderal Van Der Wijck. Belum diketahui secara gamblang apa yang melatarbelakangi perubahan nama ini selain dari ihubungan sebab-akibat dan penghormatan kepada tokoh bernama Carel Van Der Wijck  Budaya kota militer yang kental di wilayah ini juga tidak surut. Benteng kemudian beralih menjadi Pupillenschool (Sekolah Taruna Militer) pada tahun 1856. Pada masa pendudukan Jepang, benteng ini juga difungsikan sebagai tempat latihan para prajurit PETA.,

Setelah sempat menjadi kawasan tertutup kemudian ‘mati suri’ dan terlunta-lunta pada tahun 2000, bangunan benteng kemudian dipugar oleh vendor PT. Indo Power Gombong dan pada 5 Oktober 2000 benteng tersebut diresmikan oleh Kepala Staf TNI AD, Jenderal Tyasno Sudarto. Kini area benteng dikembangkan menjadi taman rekreasi keluarga yang dilengkapi dengan aneka wahana permainan, kereta di atap benteng, hingga kolam renang. Bangunan benteng terdiri dari dua lantai dengan desain bangunan yang melengkung. Pada atap ruangan masih bisa disaksikan, dimana “gancu”, atau tempat menggantung lampu yang digunakan sebagai penerangan di malam hari masih tertancap . Lantai ruangannya sendiri dilapisi dengan ubin hias.

Bangunan Benteng Cochius atau Van Der Wijck telah terdaftar sebagai bagian dari cagar budaya yang harus kita jaga. Pada Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, benteng ini masuk dalam kategori sebagai Banguna Cagar Budaya (BCB) melalui protokol SK Menteri no 184/M/2017 dengn hak milik dipegang oleh TNI Angkatan Darat.

Tak ada salahnya apabila setelah wabah pandemi ini selesai, Anda mencoba untuk mencoba beranjangsana ke Benteng yang memiliki khas berwarna merah ini, sekaligus menjejaki riwayat Sekolah Calon Tamtama tempat Presiden Soeharto menimba ilmu kemiliteran dahulu  Tak lupa berziarah ke permakaman Belanda yang tidak jauh dari lokasi benteng.

Salam Budaya !

Sumber dan Referensi :

Buku tulisan Novida Abbas bertajuk Beberapa Benteng Belanda di Jawa Tengah

Buku  tulisan Yan Lubis bertajuk Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet

Buku  bertajuk Sungai Lukulo :Perspektif Historis ,Geologis ,Ekonomi serta Sosial Budaya

Jurnal Sejarah : Tokoh Mayor Jenderal Frans David Cochius

Penelurusan Lapangan Lengkong Sanggar Ginaris “Anjangsana ke Benteng Van der wijck-Gombong”  dalam blog jejakkolonial.blogspot.com

Company Profile : Taman Wisata Sejarah Rekreasi Keluarga Hotel Wisata Benteng Van Der Wijck Gombong

Hasil analisis Ananda R “ Benteng Van Der Wijck : Kebumen dan Pelurusan Sejarahnya “ dalam blog kebumen2013.com

Javasche Courant tertanggal Juni 1839

Tulisan karya : Restu Wardhani
Infografis karya : Putri F. S