Sekarang Corona Dahulu Leptospirosis : Catatan Tempat Karantina Untuk Tangani Wabah Yang Pernah Melanda Hindia Belanda

 Kembali ke daftar artikel 

Dunia kini tengah berjuang untuk pulih dari Virus COVID 19 atau dikenal dengan nama Virus Corona. Virus yang pertama kali menelan korban di Semenanjung Cina khususnya Kota Wuhan, kini telah masuk sebagai wabah pandemi di Indonesia.  

Status virus corona yang kini menjadi wabah pandemi bukan kali pertama yang terjadi di Nusantara. Sejarah merekam, satu diantara wabah yang sempat marak yakni Wabah Leptospirosis. Wabah yang pernah melanda Pulau Jawa pada kurun waktu tahun 1911-1912 ini adalah jenis penyakit ‘zoonosis’, yang berarti penyakit ini dapat menyebar ke manusia melalui hewan. Secara umum, penyakit ini biasanya berhubungan dengan hewan pengerat dan atau sanitasi yang buruk. Penyakit ini menjangkiti manusia akibat dari air seni tikus yang kemudian menyebabkan penderitanya mengalami demam panas tinggi hingga menyebabkan kematian.

Wabah ini pertama kali melanda Malang pada 27 Maret 1911, kemudian dalam waktu satu bulan disusul oleh kasus kematian yang menimpa para penduduk. Wabah ini disinyalir dibawa oleh tikus-tikus ketika import beras ke Surabaya. Ledakan kasus kemudian merebak seantero Jawa dan merembet ke  Andalas, Pulau Sumatera.

Guna menekan penyebaran kasus wabah tersebut, Pemerintah Hindia Belanda kemudian membuat Rumah Sakit Karantina di  daerah Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Onrust dan Kiper setelah protokol resmi disahkan. Pembangunan tempat karantina berhasil diselesaikan pada akhir tahun 1911 dengan menghambiskan dana hingga 607.000 gulden. Candrian Attahiyat, Arkeolog Universitas Indonesia menyebut tempat karantina tersebut dengan nama “Quarantaine-Station Onrust-Kuiper”.

Dilansir dari website registrasi nasional Cagar Budaya Kemdikbud, Pulau Onrust telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya yang disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Nomor 140/M/1998. Selain pernah menjadi tempat karantina wabah, para jamaah haji pada masa lalu yang baru pulang beribadah dari Mekah juga diperiksa terlebih dahulu di pulau ini sebelum memasuki wilayah Pelabuhan Tanjung Priok. Pulau ini juga dilengkapi rangkaian bangunan penunjang seperti Voorlopig hospitaal (Rumah sakit sementara), Desinfectieloods (gudang  desinfeksi), dan rumah tinggal karantina. Bagi mereka yang positif memiliki riwayat sakit Leptospirosis harus tetap berada di Pulau Kuiper untuk menjalani masa isolasi selama sepuluh hari, sedangkan untuk mereka yang hasilnya negatif sedianya berada di Pulau Onrust selama lima hari.

Setelah penyelesaian akhir pembangunan, ,pada tahun 1912 diadakan tinjauan oleh para petinggi pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada tahun 1958, Stasiun Karantina ini dipindah ke daerah Pelabuhan Tanjung Priok untuk selanjutnya juga berpindah lagi ke daerah Sunter dan sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.

Tulisan karya : Restu Wardhani
Infografis karya : Putri F Setyarini