Semua Bisa, Semua Bagus! Mengenang Karya Pak Tino Di Museum Taman Tino Sidin

 Kembali ke daftar artikel 

Museum Tino Sidin, nama museum tersebut diambil dari nama tokoh seniman yang terkenal dalam bidang seni lukis dan pendidikan. Beliau adalah Bapak Tino Sidin. Ya, Museum ini merupakan museum kecil sosok Pribadi Tino Sidin. Museum inilah yang menjadi awal dari cita-cita, semangat dan kegembiraan Pak Tino dalam mengembangkan kreativitas khususnya untuk anak-anak dimulai. Bapak Tino Sidin menyalurkan berbagai aktivitasnya, salah satunya yaitu menggambar dan mengajar dalam sebuah program di TVRI yang berjudul “Gemar Menggambar”. Program tersebut menjadi salah satu program terbaik di era 1970-1990an. Bapak Tino juga mendirikan sanggar-sanggar yang tersebar di daerah Yogyakarta dan Jakarta. Nama dari sanggar-sanggar tersebut ialah “Taman Tino Sidin”. Penggunaan nama “Taman” oleh Pak Tino memiliki makna tersendiri. Nama tersebut diambil karena Taman merupakan tempat yang nyaman dan menyegarkan untuk menjadi tempat berkreasi sekaligus berekreasi.

Setelah puluhan tahun berlalu, pada tahun 2010 Taman Tino Sidin diputuskan untuk menjadi museum tetenger bagi Bapak Tino. Selanjutnya, pada tahun 2014 Taman Tino Sidin dibuka secara resmi oleh Menndikbud pada saat itu, yakni Prof. Dr.Ir. Mohammad Nuh, DEA. Pada tahun 2015 Museum Tino Sidin direvitalisasi dan diresmikan untuk umum pada tahun 2017 oleh Mendikbud Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Museum ini berdiri sebagai sebuah penghargaan atas sosok Tino Sidin dan pelestarian atas karya-karya serta peninggalannya, juga merupakan sarana tempat belajar dan mengembangkan kreativitas anak yang ditunjang oleh sanggar dan perpustakaan. Taman Tino Sidin tidak hanya menjadi museum, namun juga sebagai tempat ruang publik untuk kegiatan seminar, diskusi, dan workshop.

Museum Tino Sidin menyimpan memorabilia Tino Sidin, mulai dari koleksi baretnya yang khas, kacamata, cat, kuas, dan berbagai benda yang pernah Bapak Tino gunakan. Museum ini juga menyimpan koleksi karya lukis, sketsa, buku, dan arsip-arsip pribadi milik Bapak Tino yang belum banyak diketahui oleh khalayak ramai. Arsip-arsip pribadi tersebut meliputi koleksi foto-foto, kliping, media massa, surat-surat pribadi, terstimoni para sahabat dan murid Bapak Tino, selebaran peristiwa penting, sertifikat, dan juga penghargaan-penghargaan yang pernah diterima oleh Bapak Tino Sidin. Museum ini terletak di Yogyakarta, tepatnya di Jl. Tino Sidin 297, Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, D.I Yogyakarta. Museum ini buka setiap hari Senin-Sabtu pada pukul 09.00-16.00 WIB. Untuk harga tiket masuk sangat terjangkau, hanya dengan Rp 5.000, - , kita sudah bisa belajar sembari menikmati karya-karya Bapak Tino Sidin yang indah.

 

Sumber : Buku MUSEUM di daerah D.I Yogyakarta “Jendela Memaknai Peradaban Zaman”

Tulisan karya : Ailla Salsabila
Infografis karya : Yoga Kurniawan